Sebelas Fakta Penting Buku Bestseller

April 3, 2008 at 8:31 pm (tHe Poestaka...)

Edy Zaqeus
By: Edy Zaqeus
From: Pembelajar.com

Seri Artikel Write & Grow Rich

Jika tidak ada aral melintang, maka pertengahan Desember 2007 ini saya akan meluncurkan cetakan ketiga atau edisi revisi buku saya yang berjudul Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller (RCMBB). Banyak informasi terbaru saya tambahkan dalam buku yang terbit perdana tahun 2005 tersebut. Tak kurang dari 11 bab baru saya masukkan (semula hanya 17 bab kini menjadi 28 bab) untuk menambah bobot buku ini. Saya memang memaksudkan RCMBB edisi revisi ini sebagai sebuah ‘masterpiece’, hasil metamorfosis dari fast book yang begitu sederhana.

Sementara, untuk ‘aksesoris’—yang ini juga tidak kalah penting—sekitar 39 testimoni saya lampirkan di halaman depan. Mayoritas testimoni ini datang dari para pembaca buku RCMBB edisi perdana yang kemudian berhasil menulis buku pertamanya. Atau, testimoni juga datang dari para penulis yang terinspirasi untuk semakin produktif menulis gara-gara buku tersebut.

Nah, dua tahun berlalu sejak pertama kali buku ini terbit, rasanya tambah banyak pula informasi dari perkembangan dunia perbukuan nasional yang perlu dicermati. Salah satu tema yang tetap saja menyedot perhatian saya adalah soal misteri mengapa sebuah buku bisa meledak di pasaran atau menjadi bestseller. Masalah inilah yang coba saya kupas tuntas dalam buku RCMBB edisi revisi tersebut.

Dalam tulisan ini, saya akan coba simpulkan temuan-temuan saya selama ini perihal mengapa dan bagaimana sebuah buku bisa jadi bestseller. Berikut pemaparannya.

Pertama, tema buku yang unik, baru, dan menarik, biasanya punya kans untuk jadi bestseller. Apakah semua tema yang semacam itu selalu jadi bestseller? Tidak juga. Tapi, tema-tema buku dengan keunggulan seperti saya sebut tadi, biasanya selalu jadi langganan bestseller. Ambil contoh buku True Power of Water karya Masaru Emoto yang benar-benar menyuguhkan sebuah fenomena baru yang menarik. Karena isi bukunya memang cukup unik, sangat menarik, dan baru—atau paling tidak semakin meneguhkan fenomena lama berdasarkan bukti-bukti baru—maka larislah buku terjemahan tersebut.

Untuk kasus nasional, tengok sukses buku Quantum Ikhlas karya Erbe Sentanu. Mungkin kita sudah sering mendengar istilah-istilah kuantum (quantum) yang digandengkan dengan berbagai konsep lainnya, seperti quantum leadership, quantum writing, atau quantum learning, dll. Tapi, begitu muncul lagi istilah baru dan unik, quantum ikhlas, orang tertarik pula. Terlebih karena isi bukunya juga menarik dan relatif menyajikan alternatif baru.

Kedua, tema-tema yang sejatinya tergolong lama ternyata bisa meledak lagi jika dikemas ulang secara lebih cerdas. Contoh, apalagi kalau bukan buku terjemahan The Secret: Mukjizat Berpikir Positif. Rhonda Byrne, si penulisnya, pun mengakui hal ‘ketidakbaruan’ isi bukunya itu. Kombinasi antara kecerdasan pengemasan ulang serta dampak publikasi medialah yang mendukung kesuksesan buku tersebut.

Untuk kasus nasional, lihat sukses Jakarta Undercover karya Moamar Emka. Mungkin Anda pernah baca buku Remang-Remang Jakarta yang terbit tahun 1980-an. Temanya sama, tapi kemasan, kasus, serta cara penulisannya yang agak berbeda sehingga mendatangkan hasil yang berbeda pula.

Ketiga, kemasan bernuansa religius bisa menjadi magnet tersendiri. Lihat saja, sebelumnya buku-buku pengembangan diri dan cara berpikir positif didominasi oleh penulis-penulis Barat yang identik dengan nonmuslim. Begitu muncul buku pengembangan diri terjemahan bernuansa islami semacam La Tahzan Jangan Bersedih karya Aidh Al Qarni, maka meledaklah buku tersebut.

Mirip dengan itu, lihat saja tema emotional and spiritual quotient. Ini bukan barang baru di Barat sana. Namun, ketika di sini dikemas dalam nilai-nilai islami, lahirlah buku ESQ dan ESQ Power karya Ary Ginanjar yang sukses spektakuler. Lihat saja nanti, pasti akan lahir lebih banyak buku yang membahas teori-teori atau konsep-konsep populer secara islami. Pasar untuk buku-buku populer bernuansa religius semacam ini pasti makin membengkak dari tahun ke tahun.

Keempat, tema-tema buku yang menguak suatu rahasia atau misteri juga terus menyedot perhatian. Terlebih bila misteri itu sempat menjadi perhatian publik secara luas. Contoh mudahnya yang masuk kategori ini ya The Secret atau Jakarta Undercover. Tapi, contoh lain yang tak kalah menarik adalah larisnya buku Intel-Menguak Tabir Intelijen Indonesia karya Ken Conboy, Membongkar Jamaah Islamiyah karya Nasir, atau sukses buku IPDN Undercover dan IPDN Uncensord keduanya karya Inu Kencana.

Lalu, lihat sukses buku Sukarno File karya Antonie C.A. Dake dan Detik-detik yang Menentukan karya mantan presiden B.J. Habibie. Sampai kapan pun, yang namanya misteri pasti akan menarik perhatian. Makanya, ini bisa jadi petunjuk menarik bagi siapa pun yang ingin sukses dalam penulisan.

Kelima, judul kontroversial tetap saja menarik perhatian, walau tidak menjamin kesuksesan. Mengapa demikian? Ya, karena yang aneh-aneh, yang unik, yang lain daripada biasanya, yang menentang arus, semuanya menarik perhatian kebanyakan orang. Mau bukti? Lihat buku saya Kalau Mau Kaya Ngapain Sekolah! yang sejak terbit tahun 2004 hingga sekarang sudah 12 kali cetak dan kemudian terbit pula edisi khususnya (alias cetakan ke-13). Contoh lain, lihat buku Ternyata Akherat Tidak Kekal karya Agus Mustofa atau Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian karya Valentino Dinsi. Keenam, cara penyajian yang populer tetap lebih menarik perhatian pembaca pada umumnya ketimbang buku-buku yang disajikan secara ketat atau berstandar ilmiah tinggi. Simak bagaimana masalah-masalah marketing yang serba teoretis jadi enak mengalir bila yang menuliskannya adalah Hermawan Kartajaya yang sukses dengan Marketing in Venus.

Lihat pula bagaimana masalah-masalah keuangan yang serba rumit bisa terasa renyah dibaca bila yang menulis adalah Safir Senduk yang sukses dengan Siapa Bilang Jadi Karyawan Nggak Bisa Kaya? dan Buka Usaha Nggak Kaya Percuma. Jangan pula lupa, soal filsafat pendidikan, leadership, dan pembelajaran jadi begitu mudah dicerna ditangan Andrias Harefa dalam karyanya Menjadi Manusia Pembelajar.

Ketujuh, fakta bahwa pendatang baru atau orang yang baru pertama kali menulis buku pun sangat mungkin bisa langsung menjadi penulis bestseller. Ini jelas kabar baik bagi semua penulis yang baru mau menerbitkan buku untuk pertama kalinya. Tidak peduli apakah seorang penulis itu sudah punya nama atau belum, tapi walau baru sekali menerbitkan buku, bisa saja bukunya langsung meledak. Mau contohnya? Kita bisa sebut penulis seperti Ary Ginanjar, Valentino Dinsi, atau Raditya Dika dengan KambingJantan-nya, bahkan Eni Kusuma dengan Anda Luar Biasa!!!-nya.

Kedelapan, penulis ber-mindset ‘penjual’ punya peluang lebih besar dalam menjadikan bukunya bestseller. Simak lagi artikel saya yang berjudul “Menjadi Sales Writer”. Penulis yang berani bekerja keras mempromosikan bukunya, baik dalam bentuk seminar, peluncuran buku, diskusi, talk show, wawancara dengan media, termasuk menjual langsung bukunya, pasti punya kans besar untuk sukses. Orang-orang seperti Ary Ginanjar, Andrie Wongso, Andrias Harefa, Tung Desem Waringin, dan Safir Senduk adalah kategori penulis ber-mindset penjual. Terbukti, buku-buku mereka jadi bestseller.

Kesembilan, bahwa iklan, promosi, dan liputan media massa sungguh berperan dalam mendorong sebuah judul buku jadi bestseller. Intinya adalah penampakan (visibility) melalui berbagai instrumen komunikasi massal, bisa lewat iklan, resensi atau pembahasan media, atau bahkan termasuk penampakan di bagian-bagian strategis di toko buku.

Apakah semua buku yang diiklankan, dipromosikan besar-besaranm serta dikupas habis media bisa jadi laris? Tidak juga. Buktinya, lihat saja buku-buku bertema berat yang sering diiklankan di harian Kompas, yang tidak serta merta laris di pasaran. Walau tidak otomatis laris, namun iklan, promosi, atau liputan media massa tetap berpengaruh.

Kesepuluh, distribusi sangat berpengaruh bagi laris tidaknya sebuah buku. Bisa saja bukunya unik, menarik, judulnya kontroversial, iklannya dan promosi juga besar-besaran, namun buku tidak ditemukan di toko mana pun. Ya, sama juga bohong. Makanya, di sinilah peran sentral rantai distribusi dalam mengantarkan produk kepada konsumen akhir. Jika rantai distribusi macet, maka sebesar apa pun potensinya, lupakan mimpi jadi bestseller.

Kesebelas, buku-buku nonfiksi populer relatif lebih bisa diprediksi keberhasilannya ketimbang buku fiksi. Jauh lebih sulit mengkreasikan atau bahkan sekadar meramal akankah sebuah karya fiksi bisa menjadi bestseller. Lihat saja karya-karya fiksi yang menang penghargaan (karena biasanya pasti dianggap bagus dan bermutu) dan kemudian diburu penerbit untuk diterbitkan. Harapan penerbit, pasti karya-karya berkualitas itu bisa laris di pasaran. Makanya, treatment-nya pun pasti berbeda dari buku terbitan yang lainnya, termasuk dalam hal promosi. Tapi, apakah karya fiksi berkualitas itu selalu laris di pasaran? Tampaknya tidak.

Ini beda dengan buku-buku nonfiksi populer yang seirama dengan suatu tren tertentu. Jauh lebih mudah meramal buku Financial Revolution karya Tung Desem Waringin akan sukses di pasaran ketimbang, misalnya, meramal sebuah novel yang menang penghargaan akan mengalami hal serupa. Lebih mudah pula meramal karya Andrias Harefa, Andrie Wongso, dan Safir Senduk akan laris ketimbang karya penulis-penulis fiksi lainnya.

Nah, fakta kesebelas tersebut sekaligus merupakan kabar baik bagi para penulis nonfiksi pada umumnya. Mereka bisa merancang buku sedemikian rupa sehingga potensi untuk jadi bestseller relatif lebih besar. Beberapa variabel yang dibahas di artikel ini pun bisa dijadikan sebagai area kontrol untuk memaksimalkan potensi bestseller.

Jadi, teruslah kreatif dan bersemangat menulis buku. Manfaatkan temuan-temuan di atas untuk merangsang pikiran dalam menemukan ide-ide baru serta meramunya menjadi karya yang berpotensi besar untuk jadi bestseller. Selamat berkarya. Salam bestseller![ez]

* Edy Zaqeus adalah editor Pembelajar.com, trainer SPP, konsultan penulisan dan penerbitan, pendiri Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing, dan penulis buku “Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller”. Jangan lewatkan workshopnya bersama Andrias Harefa dengan judul “Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller” Angkatan ke-2 pada 8-9 Februari 2008 ini. Info selengkapnya di 021-7828044. Kunjungi pula blog Edy Zaqeus on Writing di http://ezonwriting.wordpress.com atau hubungi dia via email: edzaqeus@gmail.com.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Memerdekakan Pikiran Dalam Menulis

April 3, 2008 at 8:19 pm (tHe Poestaka...)

Edy Zaqeus

By: Edy Zaqeus
From: Pembelajar.com

Seri Artikel Write & Grow Rich

Hampir enam tahun lamanya saya tidak bertemu Bob Sadino, pengusaha agrobisnis yang kondang dengan bendera Kemchick, Kemfarm, dan Kemfood. Beberapa minggu lalu, saya kembali bertemu Om Bob (panggilan akrabnya) untuk sebuah wawancara. Dan, setelah wawancara selama hampir enam jam, ternyata semangat pengusaha gaek nan nyentrik ini masih saja seperti yang dulu. Provokatif, kontroversial, sangat merdeka dalam berpikir, dan gemar meneror mental orang lain.

Mengapa saya angkat Bob Sadino sebagai pembuka tulisan ini? Tak lain karena satu gagasannya yang begitu memprovokasi orang untuk berwiraswasta. “Kalau saya mau bisnis, saya tidak perlu mikir kayak orang pintar. Bikin rencana begini-begitu. Kalau mau bisnis ya bisnis saja, tidak usah terlalu banyak mikir. Kalau terlalu banyak mikir kayak orang-orang pintar itu, percayalah, nanti ndak bakalan jadi berbisnis! Jadi, merdeka sajalah!” ujar Bob bersemangat.

Nah, kalau pernyataan-pernyataan di atas saya kaitkan dengan dunia kepenulisan, rasanya ada hal yang nyambung. Apa itu? Ya, kalau mau menulis saja sudah terlalu banyak berpikir, bisa-bisa malah tidak jadi menulis. Terutama kalau yang dipikirkan adalah bayangan-bayangan negatif yang kita ciptakan sendiri, seperti yang saya tulis pada artikel terdahulu “Mengapa Orang Pintar Takut Menulis?”.

Sebagaimana di dunia wiraswasta, saya sepakat bahwa dalam dunia kepenulisan semangat dan keberanian memulai adalah hal yang teramat penting. Makanya, kalau ada orang pintar yang takut menulis, saya sangat menyarankan supaya mengingat-ingat betul provokasi Bob Sadino di atas.

Persoalannya, dari mana semangat dan keberanian menulis itu berasal? Setelah saya renung-renungkan dan saya hubung-hubungkan dengan keberanian Bob Sadino dalam memprovokasi pikiran orang, maka saya punya kesimpulan pasti. Bahwa, semangat dan keberanian menulis itu akan tumbuh manakala kita berani memerdekakan pikiran kita. Merdeka dari apa? Ya, merdeka dari segala macam rasa takut atau segala macam bayangan negatif, baik yang kita ciptakan sendiri atau sudah terkonstruksi dalam pola komunikasi kemasyarakatan.

Saya ingin menekankan arti penting pernyataan ‘merdeka dalam pikiran’ di sini. Yang saya maksudkan tak lain adalah pentingnya menumbuhkan kesadaran, bahwa siapa pun diri kita ini—tidak peduli dari usia berapa pun, jender, agama, ideologi, suku bangsa, latar belakang sosial ekonomi, dan tingkat pendidikan apa pun (atau bahkan tanpa pendidikan sama sekali)—sungguh-sungguh memiliki hak paling hakiki untuk berpikir, berpendapat, dan bersikap sesuai dengan yang kita inginkan.

Ini sungguh prinsip yang sangat mendasar dan saya anggap sangat penting pula dalam dunia kepenulisan. Berdasarkan prinsip tersebut, maka setiap orang memiliki hak mendasar untuk menuangkan setiap gagasannya dalam bentuk tulisan. Ketika kita bicara pada konteks hak, maka seharusnya tidak ada perintang apa pun yang bisa meredam, mengurangi, atau bahkan menghilangkannya.

Nah, kalau kita sudah sadar akan hak kita tadi, maka apa lagi yang bisa menghambat kita untuk menulis? Makanya, kalau kita masih tetap saja takut menulis, saya justru curiga bahwa diri kita sendirilah yang sejatinya sedang menindas hak akan kebebasan dalam menuangkan gagasan. Jadi, bukan wilayah eksternal yang menjadi penjajah pikiran kita, tetapi kita sendirilah penjajahnya. Kita sendirilah yang tidak mau bebas, tidak mau memerdekakan pikiran!

Saya sering bertanya-tanya, apa sejatinya yang membuat orang-orang pintar di kampus-kampus atau di sekolah-sekolah, tidak produktif atau bahkan tidak menulis sama sekali? Sebagian sudah berhasil kita identifikasi dan kupas dalam tulisan saya sebelumnya. Tetapi, yang paling prinsip—setidaknya menurut keyakinan saya—ternyata adalah soal cara penyikapan terhadap tradisi akademik serta tidak adanya kemerdekaan berpikir pada kebanyakan orang.

Saya akan berikan contoh klasik bagaimana pikiran bisa terjajah oleh sebuah pranata akademik. Bagi Anda yang pernah duduk di perguruan tinggi, pasti tidak asing dengan aturan baku yang mengharuskan insan akademik untuk hanya menulis berdasarkan teori atau rujukan ilmiah. Tanpa rujukan teori yang ilmiah, maka sebuah gagasan tidak ada makna akademiknya. Gagasan-gagasan itu akan dianggap sebagai opini spekulatif. Padahal, justru gagasan spekulatiflah yang selama ini menjadi fondasi ilmu filsafat, induk dari segala macam ilmu di muka bumi ini.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan aturan akademik ini. Sebab, setiap lingkungan atau institusi pasti punya pranatanya sendiri-sendiri. Hanya saja, tradisi akademik semacam ini ternyata bisa menumbuhkan pemahaman yang justru membelenggu kemerdekaan berpikir para civitasnya. Maka, jangan heran kalau melihat fakta begitu banyak civitas akademik yang gamang, menunggu, berhenti, atau bahkan membatalkan niatnya untuk menuliskan gagasan-gagasan orisinal, semata karena tidak memiliki rujukan ilmiah.

Manakala mengurai pemikiran di atas, saya tidak sedang berusaha mengajak kita semua untuk meninggalkan tradisi akademik sama sekali. Sama sekali tidak! Sebab, tradisi tersebut juga menjadi keniscayaan untuk melestarikan sebuah disiplin keilmuan. Saya hanya mengingatkan bahwa pada titik-titik posisi atau area tertentu, tradisi bisa menguatkan tetapi juga bisa melemahkan. Dalam konteks penulisan gagasan, maka sudah seharusnyalah kalau kita lebih arif menyikapinya.

Ketika yang kita butuhkan adalah sebuah pengukuhan, kesahihan, kevalidan, legitimasi, dan pranata kelembagaan, maka tradisi akademik tidak bisa ditinggalkan. Sebab jika ditinggalkan, yang terjadi adalah anomali kelimuan. Tapi, saat yang kita butuhkan adalah area kebebasan demi memperlancar penuangan gagasan, maka tradisi akademik tertentu bisa jadi justru kontra produktif.

Sebagai penulis, editor, dan penerbit, saya sering mendapati beragam tulisan dari beragam latar belakang. Tidak semuanya ditulis dengan baik. Apabila saya menerapkan standar akademik sebagai satu-satunya alat saring tulisan, maka jelas saya akan melewatkan begitu banyak tulisan bagus lainnya—sekalipun itu bukan bagus dalam artian akademik.

Saya yakin, tulisan akademik pun ditulis dengan suatu disiplin tertentu yang sangat pantas untuk dihargai. Bahkan, untuk beberapa jenis tulisan, pendekatan inilah yang rasanya bisa menjadi yang terbaik. Tetapi, tulisan-tulisan nonakademik yang sifatnya hanya opini, atau sering dianggap spekulatif, pun bisa bermanfaat dan menambahkan sesuatu kepada kita. Setidaknya, saya sering menemukan kearifan-kearifan dan kebijaksanaan dalam tulisan-tulisan jenis ini. Dan, itu pun layak mendapatkan apresiasi yang positif.

Nah, sekarang bila Anda merasa terhambat, terbelenggu, takut, atau gamang untuk memulai aktivitas penulisan gagasan, cobalah untuk mengorek sebab-musababnya. Apabila Anda merasa hambatan itu berasal dari luar diri Anda, maka segera sadari akan hak hakiki setiap orang untuk berpikir, berpendapat, dan bersikap. Ideologi demokrasi dan konstitusi kita menjamin hal tersebut.

Namun, bila hambatan itu terasa datangnya dari dalam diri sendiri, segera gedor kesadaran Anda bahwa menjajah pikiran sendiri sama artinya dengan menghina dan merendahkan martabat kita sendiri sebagai manusia merdeka. Ingat, Tuhan menciptakan manusia lengkap dengan kemuliaan martabat, kemerdekaan, dan hak-hak azasinya. Jadi, jangan cabut kemerdekaan berpikir Anda sendiri.

Saya yakin, salah satu hal yang membuat dunia ini sebegitu dinamisnya adalah karena adanya kemerdekaan berpikir. Kemerdekaan berpikir ini dinikmati oleh orang-orang yang mau menyadari, memperjuangkan, menggunakan, bahkan menikmatinya. Dari merekalah muncul beribu-ribu, bahkan berjuta-juta gagasan lisan maupun tertulis yang kemudian memperkaya peradaban manusia. Saya berharap, Anda adalah salah satu di antaranya. Selamat menulis dengan merdeka![ez]

* Edy Zaqeus adalah editor Pembelajar.com, trainer SPP, konsultan penulisan dan penerbitan, pendiri Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing, dan penulis buku “Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller”. Jangan lewatkan workshopnya bersama Andrias Harefa dengan judul “Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller” Angkatan ke-3 pada 11-12 April 2008 ini. Info selengkapnya di 021-7828044. Kunjungi pula blog Edy Zaqeus on Writing di http://ezonwriting.wordpress.com.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Mengapa Orang Pintar Takut Menulis?

April 3, 2008 at 7:50 pm (tHe Motivation's...)

Edy Zaqeus
By: Edy Zaqeus
From: Pembelajar.com

Seri Artikel Write & Grow Rich
Saya sering menemui sahabat yang punya minat sangat besar untuk mulai belajar menulis. Mereka datang dari beragam usia serta latar belakang profesi, pendidikan, bahkan status sosial-ekonomi. Tak sedikit di antaranya yang sudah membaca sekian banyak buku tentang teknik menulis, mengikuti seminar, dan lokakarya (workshop). Tak sedikit yang sudah memiliki dasar-dasar kemampuan menulis cukup memadai sebagai konsekuensi pekerjaan, profesi, atau tugas-tugas di masa studi. Sebagian lagi malah sudah sampai pada tahap sikap seperti ini, “Pokoknya apa pun akan saya lakukan, asal saya bisa menulis dengan baik!” Luar biasa!

Tapi, apakah para sahabat ini serta merta langsung belajar menulis? Ternyata tidak! Ini yang membuat saya sering bertanya-tanya, “Apa lagi ya yang kurang?” Selidik demi selidik, bagi sebagian dari kita ternyata menulis itu memang bukan perkara mudah. Mengapa tidak mudah? Ternyata, soal menulisnya sendiri sih bisa mudah, tapi perkara ‘beban mental’-nya itu yang tidak mudah. Wah, apa lagi ini?

Begini, bagi sebagian dari kita, aktivitas menulis itu sering dilingkupi oleh berbagai bayangan, persepsi, atau mitos keliru. Entah dari mana munculnya dan kapan bersarang di otak kita, tapi anggapan-anggapan yang keliru itu mampu menelikung semangat untuk menulis—bahkan semangat yang paling membara sekalipun. Saya akan perinci beberapa di antaranya.

Pertama, ada orang yang berpikir bahwa tulisan itu mencerminkan kemampuan, pengalaman, wawasan, intelektualitas, bahkan kepribadian si penulisnya. Dalam derajat tertentu, anggapan ini jelas ada benarnya. Memang, sebuah tulisan pastilah dihasilkan berdasarkan kecakapan atau keahlian si penulisnya. Intensitas dalam sebuah proses penulisan, kadang memang terekam dengan baik dalam hasil tulisan.

Makanya, orang awam pun kadang dengan mudah mengenali sejumlah hal—baik itu tingkat kemampuan, banyaknya pengalaman, luasnya wawasan, kadar intelektualitas, bahkan kepribadian si penulis—selain gagasan-gagasan dalam tulisan itu sendiri. Orang-orang ‘pintar’ pada umumnya, justru sangat paham akan konsekuensi ini. Dan, kepahaman ini pula yang justru jadi biang masalah dalam kepenulisan.

Makanya, akan salah besar jika kemudian muncul ketakutan menulis, semata-mata karena ngeri kalau-kalau tulisan kita nanti diadili orang lain, yang kita anggap lebih pintar dalam bidang yang ditulis. Kadang yang membuat ngeri bukannya pengadilan terhadap gagasan-gagasan dalam tulisan itu sendiri, tapi lebih karena ‘ancaman’ pengadilan kepada siapa yang menulis.

Jadi, ini soal ego yang ‘terancam’ oleh pikiran, persepsi, atau anggapan sendiri, yang belum tentu benar adanya. Benar sedikit atau seluruhnya, ternyata perasaan terancam ini pula yang menjadi sumber ketakutan untuk menulis.

Kedua, mirip-mirip dengan permasalahan pertama, tak jarang orang yang baru belajar atau memutuskan menulis mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri secara ‘kejam’: “Siapa sih aku, kok berani-beraninya menulis?” Kalau mau dipanjanglebarkan, maka akan muncul rentetetan gugatan pada niatan menulis, “Apa orang mau baca tulisanku?”, “Apa iya ide saya yang minim pengalaman ini layak ditulis?”, “Apa orang tidak akan menertawakan saya kalau saya menulis soal ini?”, dan masih banyak lagi.

Jadi, ini soal ancaman pengadilan terhadap ‘siapa’ si penulis itu. Percaya atau tidak, sindrom semacam ini—kalau boleh disebut begitu—menghinggapi bukan saja para calon penulis yang baru pada tahap belajar, tapi juga membelenggu kalangan intelektual, akademisi, atau para profesional yang sangat well educated dan well informed. Sindrom ini sangat berbahaya sekali. Mengapa? Kreativitas bisa macet gara-gara kita terlalu berfokus pada soal siapa diri kita dan layak tidaknya kita menulis.

Menurut saya, sindrom ini adalah soal psikologis, sementara gagasan yang hendak ditulis sama sekali tidak bertautan dengan hal tersebut. Orang bisa saja takut ini-itu ketika hendak menulis, tapi ketakutan itu sendiri tidak otomatis mengindikasikan kualitas gagasan yang hendak ditulis.

Ketiga, ancaman ‘pengadilan’ terhadap gagasan sendiri dan masalah ini juga masih bersambungan dengan persoalan-persoalan sebelumnya. Tak jarang karena pertanyaan-pertanyaan kritis soal siapa yang menulis, maka gagasan yang brilian sekalipun sering dipendam atau tidak diperbolehkan mekar.

Bagus tidaknya intisari gagasan seseorang tidak ditentukan oleh siapa pencetusnya ataupun kondisi-kondisi psikologis seseorang. Gagasan tetaplah gagasan, sekalipun ditulis oleh siapa saja dan dalam kondisi tidak percaya diri, ketakutan, dan ragu-ragu sekalipun.

Dari premis ini pula, dalam hal kepenulisan saya termasuk ‘penganut’ nilai gagasan an sich, bukan soal siapa yang menulis. Saya menghargai gagasannya, bukan siapa yang menulis. Gagasan atau tulisan seorang pembantu rumah tangga sama berharganya seperti pendapat seorang guru besar atau pakar. Gagasan tukang sol sepatu sama-sama layak diapresiasi sebagaimana ide-ide para direktur perusahaan maupun pejabat pemerintahan. Jika gagasannya bagus dan ditulis dengan baik pula, itu pantas dipuji dan diapresiasi, siapa pun penulisnya.

Bagaimana dengan gagasan buruk (bad idea)? Saya sendiri selalu bertanya-tanya, apa benar ada yang namanya gagasan buruk? Dalam ranah fungsional, mungkin ada (dalam pengertian gagasan yang tidak aplikatif). Tapi dalam ranah ide, rasanya tidak ada gagasan buruk. Yang ada mungkin hanya gagasan yang tidak disampaikan atau ditulis secara sistematis dan logis sehingga menguatkan ciri ketidakbaikannya itu.

Keempat, tak jarang bayangan atau anggapan-anggapan yang keliru tentang kepenulisan itu datang dari lingkungan di mana kita belajar sebelumnya. Maksudnya, tempat kita menyerap pengetahuan dan belajar menulis (SD, SMP, SMA, perguruan tinggi, kursus-kursus, tempat kerja, atau mentor) memberikan pedoman kepenulisan yang ternyata tidak efektif bagi diri pribadi kita.

Dalam hal menulis, memang banyak strategi, teknik, atau cara menulis yang diserap dari beragam praktik, yang kemudian dibukukan, diajarkan, atau diaplikasikan dalam kelas.

Menariknya, sekalipun banyak metode tersebut efektif untuk kebanyakan orang, tapi selalu saja ada pribadi-pribadi unik yang butuh lebih dari pedoman yang ada. Saya percaya setiap orang punya cara belajar dan berkarya sendiri-sendiri, sehingga sebuah pedoman untuk berkreasi—secanggih dan seampuh apa pun itu—tidak otomatis cocok untuk semua orang.

Saya misalnya, pernah menghadapi adik sendiri yang sedang belajar menulis artikel. Ia punya kegemaran menulis paragraf panjang-panjang, kadang hampir satu halaman penuh hanya untuk satu paragraf, yang membuat si pembaca merasa kelelahan membaca tulisannya. Ketika saya sampaikan teknik menulis paragraf yang efektif, adik saya ini merasa tidak sepaham karena—menurut apa yang pernah dia terima dari guru bahasa di SMA dan beberapa dosen yang pernah dia tanyai—teknik itu dianggap menyalahi ‘aturan’.

Maka dari itu, sekalipun teknik penulisan yang saya tawarkan saya anggap efektif, tapi karena dianggap adik saya menyalahi aturan, ya akhirnya jadi tidak efektif lagi, alias tidak dipergunakan. Ketakutan melanggar ‘aturan’ inilah yang mungkin membuat banyak orang enggan beranjak ke cara penulisan yang bisa jadi lebih cocok dan efektif bagi proses kreatifnya.

Persoalannya, apa gunanya ‘aturan’ atau pedoman kepenulisan—yang belum tentu benar keseluruhannya dan pas dengan kebutuhan kita—bila justru menghambat proses kreatif? Pada titik ini, tak ada salahnya mulai berpaling ke cara-cara baru yang lebih mendukung proses kreatif dan produktivitas kita. “Lurus tak selalu bagus,” kata saya pada adik saya ini.

Kelima, soal motif menulis. Dalam hal menulis, sebagian orang sejak dini sudah membentengi diri dengan sekian banyak pantangan. Misalnya, pantang menulis karena motif finansial. Pantang menulis untuk kepentingan personal branding. Pantang menulis karena bau pasar atau industri. Dan, masih banyak lagi pantang lainnya. Manakala berhadap-hadapan dengan tuntutan aktivitas menulis yang menuntut kompromi, maka sikap pantang ini bisa jadi penghambat yang serius.

Saya pernah berhadapan dengan seorang profesional yang menurut pandangan saya sudah cukup kaya dengan pengalaman di bidangnya. Jika sudah sampai pada tahap seperti itu, maka menuliskan gagasan-gagasan terbaiknya dalam bentuk buku adalah sebuah pilihan yang menantang. Tapi karena idealisme untuk menulis buku masterpiece—sementara waktu dan kemampuan menulis belum padu padan—si profesional ini memilih untuk tidak menulis dulu. Baginya, pantang menulis (buku) sederhana (yang dalam pikiran saya, itu bisa jadi solusi sementara bagi para profesional nonpenulis). Akhirnya, sejumlah pilihan teknik menulis yang lebih praktis dan mudah pun diabaikan.

Sesungguhnya, menulis adalah alat untuk berkomunikasi atau penyampai pesan. Karena hakikatnya alat maka tulisan itu netral. Tulisan baru punya value tertentu begitu diberi motif oleh si penulisnya. Karena di dunia ini ada beribu kepentingan, maka akan ada beribu motif pula dalam memanfaatkan tulisan. Orang bisa menulis karena motif uang, popularitas, kesuksesan, pengaruh, legitimasi, keilmuan, keagamaan, propaganda politik, dan masih banyak lagi. Motif tersebut bisa berdiri di titik ekstrim idealis sampai di titik ekstrim pragmatis. Semuanya sah-sah saja, sama bermaknanya satu dengan yang lain.

Sebagai editor dan penulis profesional, saya sering mendapati problem motif ini lumayan membelenggu sebagian orang yang hendak menuliskan gagasannya. Betapa motif bisa memacu tapi juga bisa membelenggu. Idealisme sering bertarung dengan pragmatisme. Sebagian orang bisa berkompromi dan melanjutkan aktivitas menulis, sebagian lagi berhenti pada niat dan melupakannya. Menulis akhirnya menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit sifatnya.

Jika menghadapi dilema semacam ini, kita tidak perlu takut untuk berkompromi. Idealisme tidak boleh menghambat gerak kreatif kita, sebaliknya pragmatisme juga tidak boleh membuat kreativitas kita jadi liar nirmakna. Gagasan-gagasan terbaik seharusnya tidak menguap hanya karena kita takut dengan motif atau idealisme menulis.

Sejauh ini kita sudah mengurai akar masalah kenapa orang awam maupun orang yang paling berkompeten sekalipun bisa takut menulis. Lalu, adakah cara-cara atau teknik untuk menaklukkan rasa takut menulis itu? Jawabannya, ada dan banyak sekali. Kita akan diskusikan pada tulisan berikutnya. Salam bestseller![ez]

* Edy Zaqeus adalah editor Pembelajar.com, trainer SPP, konsultan penulisan dan penerbitan, pendiri Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing, dan penulis buku “Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller”. Jangan lewatkan workshopnya bersama Andrias Harefa dengan judul “Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller” Angkatan ke-2 pada 8-9 Februari 2008 ini. Info selengkapnya di 021-7828044. Kunjungi pula blog Edy Zaqeus on Writing di http://ezonwriting.wordpress.com atau hubungi dia via email: edzaqeus@gmail.com.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

The Da Vinci Code

April 3, 2008 at 6:44 pm (tHe ChrisTian...)

Jesus Cross
By: Pdt Mexson Million
From: MisiKasih.com

Buku novel karangan Dan Brown sudah terjual sejak dipublikasikan sejak tahun 2003 sebanyak 40 juta kopi menjadi salah satu buku terlaris (bestseller), sehingga muncul sebuah film yang didasarkan atas novel tersebut yang disutradarai oleh Ron Howard dan diperankan oleh beberapa aktor terkenal: Tom Hanks, Andrey Tautou, Jean Reno dan lain-lain, diperkirakan sekitar 800 juta orang di seluruh dunia akan menonton film ini dan sekarang sementara diputarkan dibeberapa bioskop di Jakarta.

“ Mengapa The Da Vinci Code begitu menjadi terkenal dan diminati orang, sedangkan ceriteranya jelas-jelas tidak berdasarkan Alkitab yang kita percayai ?” Tanya seorang anak pada ayahnya.

“ Iya, karena sifat alamiah manusia yang selalu ingin tau sesuatu, apalagi menjadi polemik, semakin menambah minat manusia untuk mengatahuinya “. Jawab nya.

“ Dari mana Dan Brown tau bahwa Tuhan Yesus menikah dan mempunyai keturunan di Prancis sampai sekarang “.Tanyanya lagi.

“ Dalam presentasi bukunya Dan Brown menyatakan bahwa dia yakin bahwa semua deskripsi dan dokumen-dokumen dan ritus-ritus adalah benar. Tapi kenyataan tulisannya memiliki banyak kesalahan dan kebohongan, dimana diceritakan juga bahwa Yesus mempercayakan gereja kepada Maria Magdalena sebagai penerus yang membuat para rasul berkomplot melawan dan mau membunuhnya sehingga ia melarikan diri dengan anak-anaknya ke Prancis dan mendapat perlindungan dari Klandestin “Sion Of Priorato” (Pasukan bersenjata) yang melindungi keturunan Yesus dari ancaman gereja Kotolik, juga dalam gambar karya Leonardo Da Vinci yaitu: The Last supper ( perjamuan Terakhir) ditafsirkan bahwa yang duduk disamping Yesus bukan Yohanes yang waktu itu masih muda tetapi Maria Magdalena karena terlihat tangan seorang wanita dan jarak duduk Yesus membentuk V adalah kode untuk wanita. Juga dikatakan bahwa Yesus tidak menganggap dirinya Tuhan dan juga murid-muridNya tetapi merupakan hasil rekayasa dari Konsili Nicea 325 pada masa pemerintahan Emperador Constantin tentang kekudusun dari Yesus. Jadi kita dapat menangkap bahwa ini hanya sebuah ceritera fiksi yang diupayakan menjadi nyata untuk mencari populeritas dan meraup kekayaan dalam waktu singkat oleh karena itu dia berani memjungkir balik iman dan keyakinan gereja”. Jawab ayahnya memberi penjelasan..

“ Jadi bagaimana tanggapan kita dan penjelasan kita mengenai semua ini, yang bisa berdampak negative terhadap iman, karena ditonton dan dibaca oleh semua orang, terutama mereka yang lemah iman” Tanyanya lagi.

“ Dalam 1 Yohanes 4 : 1 – 3. “ Saudara-saudaraku yang kekasih janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi keseluruh dunia. Demikian kita mengenal! Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dai Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia”. Maka bijaklah kalau kita mengukur suatu kebenaran harus selalu berdasarkan Alkitab, bukan sebaliknya mengukur Alkitab dengan berdasarkan suatu tulisan-tulisan yang tidak ada dasar kebenarannya, Dan Brown berpegang pada bukti kuno yang ditemukan di Nag Hammadi, Mesir pada tahun 1945. The Gospel of Thomas dan The Secret Books of James, hanyalah dua dari koleksi tulisan-tulisan ajaran Gnostikisme pada abad kedua dan ketiga, yang tidak memenuhi standar Perjanjian Baru untuk diterima sebagai kitab suci. Karena penulis yang tidak jelas dan tidak memeliki hubungan dengan para Rasul-Rasul atau hanya berdasarkan lagenda-lagenda di dalam Pereval, yaitu sebuah tulisan romantika Raja Arthur dan kerajaan Camelotnya dan mengklaim sebagai suatu fakta atau kebenaran, tentunya sekali lagi, kita harus lebih waspada lagi, karena sebagai tanda akhir zaman maka pasti muncul banyak penyesat-penyesat mungkin lebih lagi dari Dan Brown karena masih banyak naskah-naskah kuno dari penyesat-penyesat yang akan diterbitkan, dan mungkin saja Tuhan kita Yesus Kristus membiarkan ini terjadi untuk memurnihkan kita supaya kita tidak sekedar menjadi pengikutnya saja melainkan kita harus mendalam dalam pengenalan akan Dia, memiliki pengatahuan yang benar tentang Dia dan mempunyai pertemuan pribadi dengan Nya sehingga kita semakin kuat dan diperkuat oleh oleh hujatan-hujatan melalui apapun juga, karena kita sadar bahwa apa yang dikatakan Tuhan Yesus dalam Yohanes 15: 18-19.”Jika dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dulu membenci aku dari pada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan aku memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu”.

Sekiranya yang kita imani dan yakini berasal dari dunia ini tentunya dunia tidak selalu mencari-cari alasan untuk menggugat dan menolaknya, tetapi dengan demikian kita dapat melihat bahwa Alkitab yang kita miliki walau dalam penulisannya mungkin tidak sempurna tetapi memeliki kewibawaan Allah yang terus dalam pengenapan-penggenapan. Sehingga respon kita bukan menjadi semakin lemah melainkan semakin dikuatkan karena Dia sendiri yang akan menguatkan kita oleh kasih karuniaNya. Jadi Dan Brown dengan The Da Vinci Code atau penulis-penulis lain dengan tulisan apapun juga tidak dapat mengoncangkan iman kita, kecuali kita sendiri yang mau digoncangkan dengan kebohongan.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Negative Thinking

April 3, 2008 at 6:25 pm (tHe ChrisTian...)

Jesus Christ
By: MisiKasih.com
From: MisiKasih.com

Negative Thinking atau berpikiran negatif adalah cara seseorang memberikan penilaian atau kesimpulan secara bertolak belakang dari kenyataannya. Dalam bertindak orang-orang yang berpikiran negatif umumnya akan mendasarinya pada kecurigaan dan dugaan-dugaan. Suatu ketika ada seseorang yang mengatakan bahwa hamba-hamba Tuhan di HolyPower menghidupi dirinya dari persepuluhan anggotanya. Orang ini belum pernah sekalipun bertemu dengan pengerja di HolyPower. Kami lalu menjelaskan bahwa hal itu sama sekali tidak benar karena HolyPower menanggung 95% dari seluruh biaya operasional secara pribadi tanpa ada dukungan secara finansial oleh organisasi atau gereja manapun, dan sekalipun kami berada dalam keterbatasan, kami tidak pernah membebankannya kepada anggota-anggotanya (tidak ada kewajiban atau keharusan kepada anggotanya untuk membayar pelayanan yang diberikan), itulah keadaan yang sesungguhnya; Akan tetapi orang tsb masih terus memaksakan penilaiannya itu dengan segala argumentasinya dan ingin sekali agar HolyPower membenarkan penilaiannnya itu. Dari contoh ini, kita dapat belajar, betapa orang-orang yang memiliki pikiran negatif cenderung mempersulit keadaan, sulit untuk menerima kebenaran dan akhirnya bagi dirinya sendiri tidak akan pernah menjadi berkat bagi orang lain. Persoalan negative thinking atau berpikiran negatif ini memang sudah ada sejak manusia jatuh dalam dosa; Semasa Yesus masih tinggal bersama-sama manusia, Yesus pernah mendapati murid-murid-Nya pernah berpikiran negatif terhadap seorang perempuan yang mengurapi-Nya dengan minyak wangi yang mahal, dan Yesus memberikan teguran kepada mereka (Matius 26:6-10).

Orang-orang yang berpikiran negatif juga sangat sulit menerima nasehat, apalagi kritik. Bagi orang yang berpikiran negatif, nasehat seringkali dianggap sebagai merendahkan dirinya, sedangkan kritik seringkali dianggap sebagai tuduhan yang mempersalahkannya. Mereka sulit menerima bahwa nasehat itu sesungguhnya adalah sesuatu yang menguntungkan bagi dirinya dan kritik adalah sesuatu yang dapat menjadikan dirinya semakin maju dan berkualitas. Akibatnya orang-orang yang memiliki pikiran negatif ini tidak bisa produktif dan membangun orang lain, bahkan tidak jarang mereka menjadi pendengki dan iri hati.

Menjadi pengikut Kristus justru harus didasari dengan positive thinking atau berpikiran positif. Kita harus belajar untuk mendahulukan penilaian baik terhadap sesuatu dan berusaha untuk beranggapan baik terhadap seseorang. Karena akan sia-sialah hidup kekristenan kita kalau pikiran kita masih selalu negatif dalam menilai segala sesuatunya, karena pikiran yang selalu negatif tidak akan pernah dapat menerima dengan sungguh-sungguh kebenaran yang diajarkan Yesus Kristus, apalagi untuk melakukannya. Pengajaran Kristus adalah pengajaran yang melihat segala sesuatunya dari sisi positif, bagaimana yang lemah dikuatkan, bagaimana yang memusuhi diri kita dikasihi, bagaimana orang yang bersalah diampuni, bagaimana tidak menghakimi orang lain dan mau percaya bahwa penghakiman itu adalah Hak Allah dan seterusnya. Anda bisa bayangkan apabila Yesus memiliki pikiran negatif, maka sudah pasti Yesus tidak akan pernah memberkati hidup kita karena Dia akan curiga jangan-jangan pemberian-Nya akan disalahgunakan. Yesus tidak akan pernah mau menderita dan mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia, karena curiga jangan-jangan anugerah pengampunan-Nya hanya akan sia-sia, dan seterusnya. Jadi betapa berpikiran negatif itu sangat merugikan siapapun. (RYT).

“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku;
lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Mazmur 139:23-24)

Maju terus dalam Tuhan, Tuhan Yesus memberkati saudara dan seisi rumah, amin.

Sumber : http://www.holypower.net

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Mau Menjual? Diamlah Sejenak!

April 3, 2008 at 6:10 pm (tHe Motivation's...)

Ippho Santosa - Marketer, Producer dan Penulis
By: Ippho Santosa
From: AndrieWongso.com

Ketahuilah, mendengar adalah anak semata wayang dari empati. Nah, perihal sepasang kuping ini, sesaat lagi akan kita bedah habis-habisan, terutama dalam dunia penjualan. Di suatu forum, seorang profesional yang sok tahu pernah berkhotbah, “Seorang penjual hendaklah banyak bicara agar bisa selling. Seorang penjual hendaklah pintar ngomong agar bisa closing. Dengan demikian, pembicaraan bisa didominasi dan lawan bicara bisa dipersuasi.”

Betul begitu? Dulu, saya pikir memang begitu sih. Tetapi setelah saya berkubang bertahun-tahun di ranah bisnis, barulah saya melek bahwa itu semua adalah mitos. Sekali lagi, mitos. Thus, pendekatan dangkal seperti inilah yang saya stempel dengan istilah yell-tell-sell atau berteriak-memberitahu-menjual.

Di satu sisi, penjual memang dituntut untuk sedikit talkative, umpamanya untuk memulai pembicaraan serta menyampaikan product knowledge. Namun, di sisi lainnya, penjual juga harus bisa menutup mulut dan membuka telinganya. Mbok ya pelanggan diberi kesempatan untuk bicara. Sesekali, intiplah hubungan sepasang kekasih yang tengah kasmaran. Kedua belah pihak tahu persis kapan mesti bicara, kapan mesti mendengar.

Anda tahu apa dalilnya? Begini. Ketika pelanggan angkat bicara, berarti penjual berpeluang untuk menggali lebih dalam lagi berbagai keinginan dari pelanggan. Istilah saya, 3 L, yaitu Listening, Learning, Leading. Inilah dalil pertamanya. Dalil kedua, manusia manapun senang didengerin, bukan diceramahin. Dalil ketiga, camkanlah, semua manusia hanya suka disolusiin, bukan dijualin.

Dalil keempat, manusia itu telah dikaruniai dua telinga dan satu mulut. Dua banding satu. Lha, apa hikmahnya? Tolong digarisbawahi, sudah menjadi takdir manusia untuk lebih sering mendengar ketimbang berbicara. Pantas saja Will Smith dalam film Hitch bolak-balik menasihati, “Listen and respond.”

Memang, mendengar itu sakti mandraguna. Perkenankan sejenak saya menceritakan pengalaman pribadi saya. Percaya atau tidak, semasa SMA -terutama di kelas dua dan tiga- saya hampir-hampir tidak pernah menenteng buku ke sekolah dan hampir-hampir tidak pernah mencatat penjelasan guru di kelas. Namun demikian, berulang kali saya menjadi juara di kelas, bahkan menjadi mahasiswa undangan di sejumlah kampus favorit. Kok bisa? Kalau boleh jujur, kala guru mengajar, saya hanya mendengarkan. Tepatnya, mendengarkan dengan penuh perhatian. Begitulah, mendengar itu sakti.

Di antara gadis-gadis yang pernah dekat dengan saya, ada seorang yang sulit saya lupakan. Apakah karena dia sangat cantik? Apakah karena dia sangat pintar? Tidak, tidak. Dia orang biasa-biasa saja. Tetapi satu hal yang membuat saya nyaman bersamanya adalah kesediaannya untuk mendengar. Tepatnya, mendengarkan dengan penuh perhatian. Lagi-lagi, mendengar menunjukkan kesaktiannya.

Kembali soal penjualan. Jadi, penjual terbaik bukanlah penjual yang banyak omong. Penjual terbaik adalah penjual yang bisa membuat pelanggannya banyak omong. Apalagi bila pelanggan mulai cerita macam-macam hingga curhat kepada penjual, wah, itu hebat sekali. Berarti, pelanggan telah percaya penuh kepada penjual.

Kesimpulannya, kalau Anda ingin menjadi penjual, Anda tidak saja melatih diri untuk berbicara, tetapi juga melatih diri untuk mendengar. Wajib itu! Namun, tidak sembarang mendengar, melainkan mendengar dengan empati, di mana penjual sanggup berpikir dalam perspektif pelanggannya. Setuju? Intinya, cobalah terlebih dahulu menelusuri alur pikiran pelanggan. Sejurus setelah memahami kebutuhannya, barulah kemudian Anda menawarkan solusinya. Saya selalu membahasakan: other centric first, then self-centric. Otak kanan dulu, baru otak kiri.

Ippho adalah Creative Marketer (entrepreneur, produser, dan penulis bestseller 10 Jurus Terlarang!)

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Masalah Membuat Anda Menjadi Kuat

April 3, 2008 at 6:06 pm (tHe Motivation's...)

Muk Kuang

By: Muk Kuang
From: AndrieWongso.com

Banyak orang ketika mengalami sebuah masalah entah itu bisnis yang gagal, kehilangan pekerjaan, dicemooh orang lain, penolakan yang selalu menghampiri, atau mungkin hubungan dengan rekan yang kurang baik, membuat mereka akhirnya memasuki sebuah fase dimana stress, depresi, kehilangan semangat, larut dalam kesedihan, dan segala aktivitas yang berujung kepada kemunduran diri.
Pernahkah Anda mengalami hal demikian?
Apa yang Anda lakukan jika menghadapi kondisi tersebut?

Tak satupun manusia jika ditanya mengingkan sebuah masalah terjadi didepan matanya. Semua pasti menginginkan yang indah dan kehidupan yang normal-normal saja. Tapi manusia hidup tak luput dari permasalahan. Bukan masalah yang harus diperdebatkan secara berkepanjangan, tetapi yang paling penting adalah apa yang kita lakukan terhadap masalah yang dialami.

Didalam tubuh kita, sudah dilekatkan sebuah kemampuan, kepercayaan diri, dan kekuatan luar biasa yang Sang Pencipta berikan. Ia percaya bahwa didalam diri kita masih mampu mengatasinya. Apapun yang Anda hadapi, tidak seharusnya menyerah kepada situasi. Anda mungkin berkata “Kamu tidak mengerti masalah yang kuhadapi ini, begitu tertekannya hidupku ini sampai tak satu orangpun memahaminya”, tapi satu hal yang harus dipahami betul bahwa mungkin masalah yang ada merupakan bagian untuk mendewasakan Anda, masalah yang Anda hadapi merupakan cara untuk membuat Anda belajar.

Anda kalah kalau menyerah dengan situasi, Anda kalah kalau takut menghadapai masalah yang ada, Anda kalah kalau Anda tidak berani mengambil langkah baru hanya karena masalah dimasa lalu. Janganlah menjadi pribadi yang lemah, meskipun tekanan dari orang sekitar Anda semakin kuat.
Biarlah masalah itu kita alami, jika itu mampu memberi sebuah kebaikan dimasa mendatang. Jangan enggan untuk bergumul dengan masalah. R.C. Allen pernah mengatakan ‘Kita bertumbuh karena kita bergumul, belajar, dan berhasil.

Mengutip yang dikatakan Wayne Cordeiro dalam bukunya Rising Above, ia mengatakan dalam sebuah riset yang dilakukan oleh para ilmuwan, seekor anak ayam yang akan menetas harus mematuk untuk keluar dari kulit telur yang cukup keras. Jika seseorang yang memecahkan kulit telur dari luar agar anak ayam dapat keluar, maka anak ayam itu akan mati, karena sistem peredaran darah anak ayam tersebut dikembangkan melalui perjuangannya untuk keluar dari kulit telur.
Sama halnya dengan manusia, kita harus berjuang menghadapi kesulitan yang ada, karena dengan demikian hal tersebut akan membuat kita bertumbuh menjadi lebih baik dan lebih tinggi dari tingkat sebelumnya.

J.Williard Marriott dengan indah mengungkapkan ‘Batang kayu yang bagus tidak tumbuh dengan mudah. Semakin keras anginnya, semakin kuat pohonnya’.
Saatnya untuk Anda menguatkan diri, menyakinkan diri Anda bahwa Anda mampu. Bukan saatnya lagi untuk menyerah dan mundur.

Orang lain boleh membuat Anda menjadi lemah, tapi Anda yang tidak boleh melemahkan diri Anda
Orang lain mungkin ingin Anda mundur, tapi Tuhan tidak ingin Anda mundur.

Muk Kuang
Motivational and Inspirational Speaker, Trainer
Book Author ‘Think and Act like A Winner
mukkuang@gmail.com

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Ilmu Yang Menerangi Hati

April 3, 2008 at 6:01 pm (tHe Motivation's...)

Eko Jalu Santoso
By: Eko Jalu Santoso
From: AndrieWongso.com

Dikisahkan ketika masih berguru menuntut ilmu, Imam Syafi’I RA seorang ulama muslim pernah mengeluh dan mengadukan suatu problematika kepada gurunya. Ia bertanya kepada sang guru, ”Wahai Guru, mengapa ilmu yang sedang kukaji ini susah dipahaminya?” Kemudian sang guru yang bijak, Imam Waki’ RA menjawab, ”Ilmu itu ibarat cahaya dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang berbuat maksiat.”

Membaca kisah diatas, saya menjadi ingat dengan salah satu nasehat dari seorang guru spiritual yang mengatakan, “Orang yang memiliki ilmu pengetahuan hidupnya akan mulia.” Kalau dikaji lebih mendalam, apa yang dinasehatkan oleh guru spiritual ini, sesungguhnya sejalan dengan apa yang telah disampaikan oleh Allah Tuhan Yang Maha Kuasa sebagaimana tercantum dalam kitab suciNya, bahwa Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Tentunya adalah orang yang menuntut ilmu dan ilmunya diamalkan untuk kebaikan.

Mereka ini kualitasnya akan terangkat, derajatnya akan ditinggikan dihadapan manusia dan dihadapan Tuhan. Karena dengan ilmu pengetahuan, seseorang mampu menyelami hidup ini dengan penuh semangat dan optimistis. Dengan ilmu pengetahuan seseorang mampu membuka tabir kegelapan, mampu memahami kebesaran Tuhan, sehingga diharapkan semakin memperkokoh keimanan dan ketakwaan kepada Allah Tuhan Sang Penguasa Kehidupan. Dengan senang membagikan ilmu pengetahuan, berarti melepaskan energi positif kebaikan dan pada akhirnya akan memberikan balasan kebaikan yang berlipat ganda bagi dirinya.

Dengan demikian, menuntut ilmu pengetahuan sangatlah penting bagi kesuksesan dan kemuliaan kehidupan kita. Menuntut ilmu artinya mengembangkan kemampuan nalar atau akal pikiran yang telah dikaruniakan oleh Allah kepada kita. Dapat dilakukan melalui sekolah atau pendidikan formal yang utamanya untuk mengembangkan kemampaun berpikir atau IQ, maupun melalui berbagai sarana dan media pembelajaran lainnya. Bahkan begitu pentingnya, Nabi Muhammad menganjurkan untuk menuntut ilmu sampai ke negeri Cina. Ini merupakan indikasi nyata bahwa pentingnya menuntut ilmu pengetahuan. Kalau kita pahami, tentu belajar ke Cina bukanlah belajar tafsir atau agama, pasti adalah belajar dalam ilmu pengetahuan, teknologi, industri, dan perdagangan.

Bagaimana agar ilmu pengetahuan yang kita pelajari dan miliki dapat menjadi Cahaya bagi hati kita ? Merujuk pada nasehat Imam Waki’ RA tersebut diatas, dalam menuntut ilmu atau belajar meningkatkan pengetahuan sebaiknya selalu dilandasi dengan hati yang bersih dan niat yang tulus. Tanpa hati yang bersih, ilmu yang kita miliki tidak akan meninggikan derajat kita, malah dapat merendahkan seseorang ke jurang kehinaan. Contohnya nyatanya dalam realitas kehidupan sekarang, akibat pengaruh sosial dan kapitalisme modern cenderung mendorong orang mengedepankan nilai-nilai materialisme. Maka mudah kita temukan orang yang memiliki ilmu pengetahuan, berpendidikan tinggi, tetapi menggunakan ilmu dan kepandaiannya tidak sesuai jalan kebenaran yang disyariatkan Tuhan. Mereka yang hatinya tidak bersih, cenderung mengedepankan sifat-sifat serakah dan tamak terhadap nilai-nilai materialisme duniawi. Akibatnya mudah menggunakan ilmunya untuk memperturutkan keinginan nafsu dan ego pribadinya yang berlebihan. Melakukan korupsi, berbisnis dengan cara-cara tidak terpuji, melakukan suap, menipu orang lain dan merugikan banyak orang lain.

Dengan demikian memiliki hati yang bersih adalah landasan utama agar ilmu dapat menjadi Cahaya bagi hati kita. Sehingga ilmu pengetahuan itu dapat meninggikan kualitas hidup kita dan derajat kemuliaan kita. Dilandasi hati yang bersih, ilmu pengetahuan bukan hanya mengantarkan pada kesuksesan, melainkan dapat membentuk perangai manusia lebih bijaksana dan lebih mulia. Dalam karier, Bisnis maupun kehidupan dapat mengendalikan dirinya dari perbuatan-perbuatan tercela dan akhlak yang jelas-jelas tidak disukai Allah. Hanya dengan hati yang bersih ilmu akan mudah dipahami dan bermanfaat bagi kita dan orang lain. Hati yang bersih adalah hati yang terbebas dari sifat tamak, rakus dan serakah terhadap urusan duniawi dan tidak pernah digunakan menzalimi sesama.

SEMOGA BERMANFAAT. Salam Motivasi Sukses Dan Mulia.

***Eko Jalu Santoso adalah Founder Motivasi Indonesia dan Penulis Buku “The Art of Life Revolution” dan Buku “Heart Revolution: Revolusi Hati Nurani”, keduanya diterbitkan Elex Media Komputindo.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Karakter Dan Reputasi

April 3, 2008 at 5:57 pm (tHe Motivation's...)

Andrias Harefa
By: Andrias Harefa
From: AndrieWongso.com

Hubungan antara karakter dan reputasi dijelaskan oleh seorang bernama John Wooden dengan sangat tepat. Ia mengatakan, “Be more concerned with your character than your reputation, because your character is what you really are, while your reputation is merely what others think you are“. Dengan kata lain, karakter menyangkut innate image sementara reputasi menyangkut social image. Mengutamakan innate image ini berarti being true to yourself, jujur terhadap diri sendiri alias menjadi otentik, yang merupakan jalan satu-satunya untuk dapat membangun integritas sejati (baca: menjadi manusia yang utuh).

Di era lahirnya–apa yang dengan tepat disebut oleh Yasraf Amir Piliang sebagai–sebuah dunia yang dilipat (baca: internet), tehnik-tehnik pencitraan telah menjadi komoditi yang dikonsumsi dengan lahap oleh siapa saja yang ingin dicitrakan secara positif untuk memperoleh atau melindungi kepentingan tertentu. Artinya ada upaya untuk mendahulukan reputasi melalui proses rekayasa yang canggih dan sistematik, agar citra sosial yang ditampilkan lewat serangkaian aktivitas public relations dapat membentuk opini publik tentang “seseorang” atau “sesuatu”. Soal apakah reputasi ciptaan itu sesuai atau tidak dengan realitas dan kebenaran, menjadi urusan nomor dua.

Dampak yang paling mengerikan dari upaya mendahulukan reputasi daripada karakter adalah makin suburnya kemunafikan dan kepalsuan. Hal ini paralel dengan apa yang digagas Stephen R. Covey (1989) ketika membicarakan dan membedakan antara Personality Ethic dan Character Ethic. Sebab menurut studi doktoral yang dilakukan Covey, literatur tentang cara-cara meraih keberhasilan atau sukses–khususnya di Amerika, tetapi mungkin juga benar secara universal–mengalami pergeseran dari penekanan kepada usaha membangun karakter seperti yang dicontohkan oleh Benyamin Franklin, ke penekanan kepada usaha pengembangan kepribadian.

Di Amerika, selama kurun waktu 150 tahun pertama sejak kemerdekaannya (1776-1926), fondasi keberhasilan diyakini bertumpu pada Character Ethic, yakni upaya mengintegrasikan prinsip-prinsip agar menjadi bagian dalam diri. Integritas, kerendahan hati, kesetiaan, pembatasan diri, keadilan, kesabaran, kesederhanaan, keberanian, kerajinan, kesantunan, dan the Golden Rule (berbuatlah kepada orang lain seperti yang kamu kehendaki orang lain perbuat kepadamu), merupakan hal yang diyakini sebagai fondasi kokoh bagi keberhasilan sejati. Lalu, pada 50 tahun berikutnya (1926-1976), terjadi pergeseran ke arah Personality Ethic. Keberhasilan lalu lebih dipahami sebagai fungsi kepribadian, citra public, sikap dan perilaku, berbagai keterampilan dan tehnik-tehnik yang memperlancar interaksi hubungan antar manusia. Dua pola yang mendukung Personality Ethic ini adalah (1) teknik-tehnik human and public relations; dan (2) ajaran mengenai positive mental attitude (PMA).

Ajaran Covey mungkin membuat marah para ‘pengikut’ (antara lain) David J. Schwartz, Napoleon Hill, dan Norman Vincent Peale. Namun dengan kepala dingin kita dapat menilai bahwa dalam hal ini Covey benar. Rekayasa citra sangat berpotensi untuk menjadi prostitusi citra, dan rekayasa sikap positif yang tidak didasarkan pada paradigma yang lebih baik hanya dapat memberikan perubahan sementara yang tidak mendasar dan karenanya “kurang bernilai”.

Hal ini tidak berarti bahwa social image itu tidak perlu direkayasa, tetapi hal itu hendaknya tidak dilakukan untuk memanipulasi, mengaburkan, dan menyimpang dari innate image seseorang. “Tampilan” diri seseorang atau sesuatu itu harus selaras dan benar-benar mencerminkan the true self (diri sejati) yang ada “didalam” (innate). Bila tidak, maka yang terjadi adalah pemalsuan atau twisting of meaning (pemelintiran makna). Hal ini hanya akan melahirkan orang-orang munafik yang kata-kata dan perbuatannya saling bertabrakan sehingga ia tidak dimungkinkan menjadi pribadi yang berintegritas (utuh).

Character Ethic berkaitan dengan upaya membangun karakter (innate image), sementara Personality Ethic adalah soal membangun reputasi (social image). Yang pertama harus menjadi landasan bagi yang kedua, dan bukan sebaliknya. Yang pertama berkaitan dengan prinsip-prinsip hidup, sementara yang kedua menyangkut soal gaya hidup. Dan hanya bila keduanya selaras, maka keberhasilan seseorang dapat menjadi lestari (sustainable) karena bersifat sejati. Bila tidak, maka keberhasilan itu ibarat bangunan yang tak berfondasi atau dibangun di atas pasir. Banjir dan angin topan (baca: krisis) akan meluluhlantakkan semua itu dalam sekejap waktu. Dan reputasi palsu atau citra sosial yang dibangun berpuluh tahun akan lenyap seketika seiring dengan tampilnya ‘karakter tercela’ yang selama ini disembunyikan.

Benarkah demikian?

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Suatu Hari Ketika Ayat-ayat Cinta Ngetop Sekali (1)

April 2, 2008 at 9:49 pm (tHe Santai...)

Prie GS
By: Prie GS
From: AndrieWongso.com

Mumpung novel dan film Ayat-Ayat Cinta sedang menjadi fenomena, izinkan saya numpang terkenal. Bukan karena dua nama di balik proyek ini ada adalah orang yang dekat dengan hidup saya, melainkan karena sebuah kerepotan yang amat menganggu saya, sejak novel ini terkenal. Sebelum kerepotan itu lebih jauh saya bicarakan, baiklah saya ceritakan lebih dahulu siapa dua orang penting itu.

Pertama adalah Habiburrahman Al Shirazy, sang penulis dan kedua adalah Anif Sirsaeba, adik Habib. Anif adalah nama yang amat berjasa membawa novel kakaknya itu ke sana kemari, menawarkananya ke sana kemari, mencari endorsement ke sana- kemari, bernegosiasi ke sana kemari, sehingga Ayat-Ayat Cinta menjadi sebesar ini. Bentuk fisiknya memang tak seberapa. Orang malah cenderung salah sangka jika ketemu Anif untuk kali pertama. Tetapi dengarkan kalau ia sudah ngomong, seluruh anggota tubuhnya akan bergerak sedemikian rupa. Matanya akan melotot dan kalau perlu ludahnya akan muncrat kesana-kemari.

Ia adalah negosiator ulung. Jangan coba-coba membuat negosiasi penting dengan Habib tanpa izin adiknya. Ini bisa membuatnya marah. Semula dia adalah mahasiswa yang sering mendengar ceramah jurnalistik saya di kampusnya. Sebagai pendengar ia sering mencari perhatian saya dengan menjual keangkuhannya. Tapi ia belum tahu bahwa yang ia hadapi ini adalah Prie GS yang juga memiliki keangkuhan yang sama. Akhirnya orang yang sama-sama angkuh capek sendiri dan memutuskan menjadi kakak dan adik saja. Saya kakaknya, dia adik angkat saya. Jadi betapapun saya lebih tua darinya. Maka kalaupun lebih pintar, ia harus punya tertip menghormati saya. Apa boleh buat!

Pernah dua orang ini Habib dan Anif, diundang ke Jakarta oleh sebuah PH yang tertarik utnuk menggarap proyek Ayat-Ayat Cinta. Diundang, tetapi menurut Anif tidak diperlakukan semestinya. Diminta menunggu terlalu lama. Diangap sebagai orang desa yang amat butuh pekerjaan. Anif mestinya sudah jagoan menangani keadaan ini, tetapi dari Jakarta ia memerlukan menelpon saya. ‘’Apa yang harus saya lakukan?” tanyanya. ‘’Keluar dari ruangan itu. Segera! Kalau perlu tanpa pamit!” kata saya. ‘’Kamu ini orang miskin. Jadi jangan mau dihina. Jangan miskin dua kali!” tambah saya. Dan ia setuju dengan nasihat ini. Ya, dari awal, kami memang orang-orang yang mendidik diri sendiri untuk kuat di hadapan kemiskinan. Kami menjalaninya dengan gembira. Kepada orang-orang yang menghina dan meremehkan kemiskinan, kami ganti akan memandang mereka dengan sebelah mata. Agak pendendam memang. Tapi teknik ini pasti ini adalah usaha yang cerdas untuk melawan tekanan.

Lewat Anif inilah Novel Ayat-Ayat Cinta cetakan pertama dibawa ke rumah dan saya membacanya. Dalam soal menulis, saya merasa tidak kalah hebat dari Habib, maka jika bicara soal teori sastra, saya bisa lebih berbusa-busa dari Habib. Jadi saya tidak tertarik membicarakan novel Habib itu dari sudut kesusastraan. Tetapi novel ini rampung saya baca dan di beberapa bagian saya terharu dibuatnya. Kesimpulan saya sederhana; inilah buku yang ditulis dengan ketulusan. Tumpah begitu saja. ‘’Kakakmu ini Hamka kecil,” gumam saya saat itu. Cuma berguma memang. Tetapi kalimat itulah yang kini ada sebagai endorsement di novel Ayat-ayat Cinta cetakan berikutnya.

Waktu itu saya benar-benar berguman karena secara disiplin bercerita, bahkan sastrawan sebesar Hamka saya anggap begitu begitu saja. Saya merasa lebih bisa mengarang-ngarang plot yang dramatik, kalimat-kalimat yang kenes dan diksi yang gaya. Tetapi Hamka tidak. Ia lurus saja seperti layaknya gaya orang tua. Tetapi membaca novelnya, air mata saya bisa berleleran. Habib di mata saya, memiliki konteks seperti ini. Oo, ternyata ada yang lebih tua umurnya dari apa yang saya pahami sebagai sastra itu. Ada sesuatu yang lebih bertenaga dari sekadar teori sastra. Untuk sementara saya ingin menyebutnya sebagai jiwa yang menyeluruh. Tak peduli apapun kata-katamu, jalau jiwamu tumpah seluruh, ia akan menjadi gelombang yang luar biasa, pikirku. Tetapi aku tidak cukup puas dengan kata-kata sendiri ini. Aku membutuhkan seorang seperti Ignas Kleden untuk mau menjelaskan kepada khalayak dengan bahasa yang lebih sekolahan. Ignas adalah manusia sekolahan yang saya kagumi. Ia punya hutang pada saya untuk kejelasan ini.

Oya, saya masih akan berceirta tentang Habib dan Anif, tetapi terpaksa harsu bersambung di kolom berikutnya. Tunggu saja!

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Doa Sang Jenderal

April 2, 2008 at 9:08 pm (tHe Motivation's...)

Andrei Wongso
By: AndrieWongso
From: AndrieWongso.com

Pada masa perang dunia kedua, tepatnya bulan Mei Tahun 1952, seorang jenderal kenamaan, Douglas Mac Arthur, menullis sebuah puisi untuk putra tercintanya yang saat itu baru berusia 14 tahun. Puisi tersebut mencerminkan harapan seorang ayah kepada anaknya. Ia memberi sang anak puisi indah yang berjudul “Doa untuk Putraku” Inilah isi puisi tersebut:

Doa untuk Putraku

Tuhanku…
Bentuklah puteraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk mengetahui kelemahannya. Dan, berani menghadapi dirinya sendiri saat dalam ketakutan.Manusia yang bangga dan tabah dalam kekalahan.

Tetap Jujur dan rendah hati dalam kemenangan.

Bentuklah puteraku menjadi manusia yang berhasrat mewujudkan cita-citanya dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja.

Seorang Putera yang sadar bahwa mengenal Engkau dan dirinya sendiri adalah landasan segala ilmu pengetahuan.

Tuhanku…

Aku mohon, janganlah pimpin puteraku di jalan yang mudah dan lunak. Namun, tuntunlah dia di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan.

Biarkan puteraku belajar untuk tetap berdiri di tengah badai dan senantiasa belajar untuk mengasihi mereka yang tidak berdaya.

Ajarilah dia berhati tulus dan bercita-cita tinggi, sanggup memimpin dirinya sendiri, sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain.

Berikanlah hamba seorang putra yang mengerti makna tawa ceria tanpa melupakan makna tangis duka.

Putera yang berhasrat untuk menggapai masa depan yang cerah namun tak pernah melupakan masa lampau.

Dan, setelah semua menjadi miliknya…

Berikan dia cukup rasa humor sehingga ia dapat bersikap sungguh-sungguh namun tetap mampu menikmati hidupnya.

Tuhanku…

Berilah ia kerendahan hati…

Agar ia ingat akan kesederhanaan dan keagungan yang hakiki…

Pada sumber kearifan, kelemahlembutan, dan kekuatan yang sempurna…

Dan, pada akhirnya bila semua itu terwujud, hamba, ayahnya, dengan berani berkata “hidupku tidaklah sia-sia”

Pembaca yang budiman,
Puisi yang ditulis oleh Jenderal Douglas MacArthur tersebut merupakan sebuah puisi yang luar biasa. Puisi itu adalah sebuah cermin seorang ayah yang mengharapkan anaknya kelak mampu menjadi manusia yang ber Tuhan sekaligus mampu menjadi manusia yang tegar, tidak cengeng, tidak manja, dan bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri.Seperti contoh sepenggal puisi di atas yg berbunyi: “Janganlah pimpin puteraku di jalan yang mudah dan lunak, tuntunlah dia di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan.” Puisi ini menunjukkan bahwa sang jenderal sadar tidak ada jalan yang rata untuk kehidupan sukses yang berkualitas.Seperti kata mutiara yang tidak bosan saya ucapkan: “Kalau Anda lunak pada diri sendiri, kehidupan akan keras terhadap Anda. Namun, kalau Anda keras pada diri sendiri, maka kehidupan akan lunak terhadap Anda.”Untuk itu, jangan kompromi atau lunak pada sikap kita yang destruktif, merusak, dan cenderung melemahkan. Maka, senantiasalah belajar bersikap tegas dan keras dalam membangun karakter yang konstruktif, membangun, demi menciptakan kehidupan sukses yang gemilang, hidup penuh kebahagiaan!!

Selamat
berjuang!!!

Salam sukses luar biasa!!!
Andrie Wongso

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

halaman sebelumnya