Hujan yang Mendatangkan Berkat

By: Pdt. R. Bambang Jonan
From: Bethanyr4.or.id
Yakobus 5:17-18 “Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujan pun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumi pun mengeluarkan buahnya.”
Menjelang datangnya hari Tuhan yang besar yang dashyat itu, maka Tuhan akan mengutus kembali nabi Elia. Siapakah nabi Elia++? Apa yang menjadi pelayanan Elia pada akhir jaman ini?
Didalam Perjanjian Lama, Elia dikenal sebagai nabi yang menurunkan api dari surga sehingga ia disebut “nabi api”. Setelah menurunkan api, Elia berdoa dan hujan pun turun setelah tiga tahun dan enam bulan tidak ada hujan sehingga Elia juga disebut “nabi hujan (the rain maker)”. Pada hari-hari ini gereja harus memiliki pelayanan seperti Elia untuk membawa rekonsiliasi sehingga hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak berbalik kepada bapa-bapanya.
Untuk pelayanan ini, gereja membutuhkan “api dari surga” untuk memurnikan dan untuk membersihkan dirinya dan “hujan dari surga” supaya gereja dapat menghasilkan buah yang baik.
Hari-hari ini saya melihat Api Roh Kudus dicurahkan dengan limpahnya. Nubuatan yang terdapat dalam kitab Yoel 2:28-29 sedang digenapi atas Indonesia, dan saya percaya Indonesia akan dipenuhi oleh kemulian Tuhan. Pertanyaannya saat ini adalah apa yang dibutuhkan oleh gereja setelah menerima lawatan api kekudusan dari Roh Kudus? Yakobus menuliskan bahwa gereja memerlukan HUJAN sehingga gereja mengeluarkan buah-buah kebenarannya.
Dimanakah hujan itu berada?
>Ulangan 28:12 “Tuhan akan membuka bagimu perbendaharaan-Nya yang melimpah, yakni langit, untuk memberi hujan bagi tanahmu pada masanya dan memberkati segala pekerjaanmu, sehingga engkau memberi pinjaman kepada banyak bangsa, tepai engkau sendiri tidak meminta pinjaman.”
Perhatikan kata “langit” dan “perbendaharaan-Nya” . Dalam bahasa aslinya kata yang dipakai untuk langit adalah “HASHAAMAYIM / SHAMAYIM” yang berarti surga (heaven). Sham = tempat dimana air berada, mayim = air dan api. Jadi menurut ayat di atas, surga adalah tempat penyimpanan air dan api.
Bagaimana Elia menurunkan hujan ?
>Ayat yang ke 17 mencatat bahwa “Elia bersungguh-sungguh berdoa agar hujan turun dan hujanpun turun..”. Kata kunci bagi gereja untuk menurunkan hujan adalah “sungguh-sungguh berdoa”.
Bagaimana kehidupan doa gereja anda? Apakah api doa tetap menyala-nyala dalam pelayanan anda? Ingat, salah satu pelayanan dari Roh Kudus adalah membantu kita dalam kelemahan kita, sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa. (Roma 8:26).
“RumahKu akan disebut Rumah Doa bagi segala bangsa.” Melalui ayat ini maka kita beroleh pengertian bahwa panggilan untuk berdoa bukan hanya untuk orang-orang tertentu saja, tetapi panggilan sebagai pendoa adalah untuk semua orang, karena tubuh kita adalah rumahnya Tuhan (1 Korintus 6:19.
Apakah definisi dari pendoa?
A.W.Tozer dan Johanes Facius mendefinisikan pendoa melalui doa bapa kami.
-
Pendoa adalah orang yang merindukan bapanya yang ada di surga.
-
Pendoa adalah orang yang merindukan surga itu sendiri, karena Tuhan mengajarkan untuk berdoa seperti ini : Datanglah kerajaanMu dan jadilah kehendakMu di bumi seperti di dalam surga. Jadi waktu kita berdoa maka kerajaan Allah turun ditengah kita. Bukankah itu merupakan suatu hal yang luar biasa.
Gereja, mulailah berdoa dengan sungguh-sunguh karena “Doa orang benar bila dengan yakin didoakan sangat besar kuasanya.”
Bagaimana Elia dapat membuka perbendaharaan-Nya ?
Berikut ini ada beberapa kunci untuk membuka perbendaharaan-Nya Tuhan supaya hujan itu turun.
Ulangan 11:13-14 “Jika kamu dengan sungguh-sungguh mendengarkan perintah yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, sehingga kamu mengasihi Tuhan Allahmu, dan beribadah kepada-Nya dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, maka Ia akan memberi hujan untuk tanahmu pada masanya, hujan awal dan hujan akhir, sehingga engkau dapat mengumpulkan gandummu, anggurmu dan minyakmu.”
Perhatikan kata “mengasihi Tuhan dan beribadah kepada-Nya dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu. Gereja inilah kunci untuk membuka perbendaharaan-Nya yang melimpah yakni hujan pada masanya, hujan awal dan hujan akhir.
Jangan puas kalau Anda sudah menjadi anggota ataupun menjadi pelayan di gereja lokal. Panggilan Tuhan kepada kita tidak berhenti sampai kepada jemaat ataupun pelayan Tuhan, tetapi panggilan Tuhan yang tertinggi adalah panggilan sebagai “KEKASIH / MEMPELAI” .
Hukum yang pertama dan yang terutama menyingkapkan rahasia tentang panggilan Tuhan yang kudus kepada gereja-Nya. Tuhan mau supaya gereja-Nya menjadi kekasih / mempelai bagi diri-Nya, bukan menjadi budak / pelayan bagi Dia.
1 Korintus 16:22 “Siapa yang tidak mengasihi Tuhan, terkutuklah ia. Maranatha”.
Apa yang terjadi bila gereja tidak mengasihi Tuhan dan beribadah dengan segenap hati kepada Tuhan? Ayat di atas menyatakan bahwa ia akan hidup di bawah kutuk sampai Maranatha.
Gereja, mengasihi Tuhan bukanlah satu pilihan antara suka atau tidak suka. Mengasihi Tuhan adalah perintah. Kepada jemaat seringkali saya tekankan bahwa “ibadah” bukan untuk kita (manusia) saja, tetapi “ibadah” adalah juga untuk Tuhan. Buat saya “ibadah” adalah kesempatan / waktu dimana sepasang kekasih bertemu untuk memadu kasih. Apa yang dilakukan oleh sepasang kekasih saat mereka memadu cinta? Sudah tentu mereka ingin menyenangkan hati pasangannya. Itulah gambaran dari ibadah. Kurang tepat kalau motifasi kita beribadah hanya oleh karena berkat, kesembuhan, kelepasan, kekuatan, penghiburan, dan lain-lain. Ingat bahwa Tuhan adalah “pribadi” yang juga memiliki “kebutuhan”. Pernahkah anda bertanya kepada Tuhan apa yang menjadi “kebutuhan” Tuhan saat anda sedang “kebutuhan”. Pernahkah anda bertanya kepada Tuhan apa yang menjadi “kebutuhan” Tuhan saat anda sedang “beribadah”?
Kasihi Tuhan dan beribadahlah dengan segenap hati maka Tuhan akan memberikan hujan pada masanya, hujan awal dan hujan akhir.
Maleakhi 3:10 “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan dirumah-Ku dan ujilah Aku, firman Tuhan semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu “tingkap-tingkap langit” dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan”.
Kata tingkap-tingkap langit diambil dari kata “floodgates of heaven” yang berarti “pintu gerbang air surga”. Gereja apa yang terjadi saat anda mebawa persembahan persepuluhan kedalam rumah perbendaharaan (gereja lokal)? Tuhan berjanji untuk membukakan “pintu gerbang air surga” sehingga anda berkelimpahan.
Banyak orang bertanya mengapa kita harus memberikan persembahan persepuluhan? Gereja, perhatikan Maleakhi 1:6-7, seluruh persembahan yang dipersembahkan kepada Tuhan adalah sebagai tanda bahwa kita menghormati dan mengasihi Tuhan. Jangan pernah sekalipun termotifasi bahwa apabila kita memberikan persembahan, maka Tuhan akan mengembalikan persembahan kita tiga puluh kali lipat, enam puluh kali lipat, bahkan seratus kali lipat ganda. Jangan pernah hitung-hitungan dengan Tuhan. Mengapa kita memberi persembahan? Kita memberi karena kita menghormati dan mengasihi. Inilah yang Tuhan ajarkan mengenai persembahan.
Satu saat setelah saya menyampaikan firman Tuhan tentang persembahan persepuluhan, datanglah seorang jemaat untuk berbicara dengan saya. Ia menyatakan ketidak setujuannya tentang firman yang baru disampaikan, pendeknya ia menentang firman mengenai persembahan persepuluhan. Jemaat ini mengajukan dua pertanyaan kepada saya. Yang pertama : “Bukankah setiap rupiah yang kita terima, kita terima dari Tuhan? dan pertanyaan yang kedua: Bukankah Tuhan yang memberi berkat kepada kita, mengapa kita harus mengembalikan persepuluhan?
Saya hanya tersenyum dan menjawab dua pertanyaan di atas dengan sebuah pertanyaan. Saya bertanya: “Apakah Anda seorang Anak Allah ? Dengan agak ragu ia menjawab “Ya.” Saya katakan bahwa “buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya” dan sebagaimana seorang bapa, demikianlah anaknya (like father like son). Kalau kita memiliki bapa yang murah hati dan suka memberi, maka gereja sebagai anak-anak-Nya so pasti juga suka memberi. Mengapa kita memberi? Sederhana, karena kita adalah anak Allah.
Gereja, Elia adalah manusia biasa sama seperti kita. Kalau Elia dipakai Tuhan untuk menurunkan hujan maka saya percaya kita juga dapat dipakai Tuhan untuk menurunkan hujan supaya bumipun mengeluarkan buahnya. Tuhan segera dating dan Ia mencari buah. Tuhan Yesus memberkati.
Mempersiapkan Jalan Bagi Tuhan

By: Pdt. R. Bambang Jonan
From: Bethanyr4.or.id
“Tariklah pelajaran dari perumpamaan tentang pohon ara: Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu melihat semuanya ini, ketahuilah, bahwa waktunya sudah dekat, sudah diambang pintu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya itu terjadi. Langit dan bumi akan berlalu tetapi perkataanKu tidak akan berlalu. Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa sendiri.” ( Matius 24:32-36)
Injil Matius pasal 24 & 25 adalah dua pasal yang paling penting dalam menghadapi datangnya hari-hari terakhir, sebelum dan setelah kedatangan Tuhan Yesus untuk kali kedua di bumi ini. Dalam kedua pasal ini Tuhan Yesus memberitahukan tanda-tanda kedatanganNya yang kedua dan apa yang akan terjadi setelah itu. KedatanganNya yang pertama sudah digenapi 2.000 tahun yang lalu, dimana Ia lahir sebagai Juruselamat dunia dan saat ini kita semua sedang menantikan kedatanganNya yang kedua dimana Ia akan datang untuk memerintah dunia selama 1.000 tahun sebagai Raja diatas segala raja.
Dalam Alkitab: Pohon ara selalu berbicara tentang Israel sebagai suatu bangsa. Pada tahun 70M, Israel dikalahkan oleh kerajaan Romawi, yang mengakibatkan terpencarnya mereka ke seluruh dunia, dan selama lebih dari 1.875 tahun, Israel tidak memiliki tanah air. Mereka tinggal sebagai orang asing/pendatang di bangsa-bangsa. Baru pada tahun 1948, atas prakarsa dari Inggris Raya, Israel dilahirkan kembali sebagai suatu bangsa dan memperoleh pengakuan dari PBB, sehingga mereka kembali ke tanah perjanjian.
Lahirnya Israel sebagai suatu bangsa telah menggenapi nubuatan Tuhan Yesus mengenai perumpamaan tentang pohon ara. Kita tahu apabila ranting-rantingnya telah melembut dan mulai bertunas, maka waktu kedatanganNya sudah dekat. Lalu apa yang harus dilakukan oleh murid-murid untuk mempersiapkan kedatangan Tuhan Yesus untuk kali yang kedua ?
Matius 24:14 adalah jawaban yang paling Alkitabiah, “Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.”
Pemberitaan Injil Kerajaan adalah panggilan kepada seluruh tubuh Kristus dalam menyambut dan mempersiapkan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya, sebagai Raja Damai. Berikut di bawah ini adalah renungan singkat tentang ba-gaimana cara kita sebagai gereja memberitakan Injil Kerajaan pada hari-hari terakhir.
- Apa arti dari kata “Injil Kerajaan” ?
Suatu pagi saya datang ke kantor gereja lebih awal dari yang lain. Saat itu belum ada seorang pengerjapun yang tiba, keadaan kantor masih sangat sunyi. Saya mengambil Alkitab dan mulai membaca. Sementara larut dalam pembacaan tersebut, tiba-tiba Roh Kudus bertanya kepada saya: “HambaKu, menurut engkau apa arti dari Injil ?”, tiba-tiba saya teringat ayat dalam Roma 1:16-17 lalu saya menjawab:” Injil adalah rahasia kekuatan Allah yang menyelamatkan orang yang percaya.” . Kemudian Roh Kudus bertanya untuk kedua kalinya: “Sebutan apa yang diberikan oleh Alkitab bagi orang yang memberitakan Injil ?”, kembali saya teringat ayat dalam II Kor 5:18-19 dan menjawab: “Pelayan pendamaian, Tuhan, dan pelayanannya disebut pelayanan pendamaian.” Suara itupun berhenti.
Pagi itu Roh Kudus mengajarkan suatu pengertian yang sangat berharga kepada saya, yaitu bahwa berita Injil adalah berita pendamaian yang menceritakan karya agung Tuhan Yesus. Ia telah memperdamaikan manusia yang berdosa dengan diriNya yang tanpa dosa. Dengan jelas saya melihat bahwa melalui Injil, murid-murid Tuhan Yesus membawa kabar damai kepada dunia. Sebagai orang percaya kitapun disebut murid-murid Yesus, bila kita punya permasalahan yang membuat kita sulit untuk berdamai dengan sesama orang percaya atau sesama hamba Tuhan, dapatkah kita memberitakan Injil yang isinya adalah berita tentang pendamaian ?
Fil 1: 15, “Ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang meberitakan-Nya dengan maksud baik (karena kasih).”
Saya berdoa agar kita semua memberitakan Injil bukan karena dengki dan perselisihan, melainkan hanya oleh karena kasih.
- Bagaimana cara murid-murid memberitakan Injil ?
Tidak dapat dipungkiri bahwa metode atau cara penginjilan akan selalu mengalami perubahan dari jaman ke jaman sesuai dengan tuntunan yang Tuhan berikan. Alkitab mencatat pada hari-hari terakhir akan muncul nabi-nabi palsu, guru-guru palsu. Siapakah mereka ? Mereka adalah orang–orang yang hidup dalam hawa nafsu dan keserakahan (2Pet2:2-3). Lalu bagaimana cara kita mengenali mereka ? Alkitab dalam Matius 7:20 dengan jelas menyatakan bahwa dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.
Gereja, saya percaya bahwa pemberitaan Injil yang paling effektif dan sangat Alkitabiah pada hari-hari terakhir adalah pemberitaan Injil melalui cara hidup kita sebagai hamba-hamba Tuhan yang melayani. Apakah cara hidup kita membuahkan buah Roh atau buah yang lain.
Firman Tuhan tidak pernah mencatat bahwa seorang hamba Tuhan akan dikenal melalui karunia-karunia Roh yang ada padanya, melainkan melalui buah Roh yang keluar dari kehidupannya.
Hari-hari ini muncul semacam gerakan yang dilakukan oleh sebagian dari para hamba Tuhan internasional, dimana mereka mulai memisah-misahkan pelayanan menurut karunia-karunia Roh yang ada pada hamba-hamba Tuhan tertentu (sesuai dengan yang ada dalam Efesus pasal 4:11). Mereka mendirikan organisasi Para Rasul, organisasi Para Nabi dan sebagainya.
Alangkah baik dan indah bila orang dapat mengenal kita sebagai seorang hamba Tuhan karena BUAH ROH dan bukan karena KARUNIA ROH.
Mengapa ‘buah’ menjadi begitu penting pada hari-hari terakhir ? Galatia 5:6 “ …….,hanya iman yang bekerja oleh kasih.”
Banyak orang senang mengejar karunia Roh seperti : karunia mujijat untuk mengadakan tanda-tanda ajaib, karunia kesembuhan untuk menyembuhkan banyak orang, mengusir setan dll. Namun tidak banyak yang mau mengejar kehidupan yang mengeluarkan buah Roh. Karunia-karunia Roh tentu baik dan bagus, tetapi kasih adalah buah Roh yang pertama, dan Alkitab mengajarkan bahwa : iman (karunia) hanya akan bekerja oleh karena buah (kasih). Buah akan membawa kita kepada akhir karena karunia akan berhenti, tetapi buah akan tinggal tetap.
Buah dan karunia tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Kita boleh punya segala sesuatu tetapi apabila kita tidak memiliki kasih maka semua akan sia-sia. Kita boleh memiliki karunia-karunia Roh yang luar biasa, tetapi tanpa buah Roh, kita adalah gong yang gemerincing.
Jadi mana yang harus kita utamakan, mengejar buah atau mengejar karunia ? Saya percaya bahwa pelayanan pemberitaan Injil melalui pendekatan buah Roh seperti kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikkan, kesetiaan, kelemah lembutan, penguasaan diri, adalah metode penginjilan yang paling tepat pada hari-hari terakhir ini, karena tidak ada satu hukumpun yang dapat menentang hal-hal itu.”
- Apa yang terjadi bila gereja tidak memberitakan Injil ?
Pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar, bangsa akan bangkit melawan bangsa, perpecahan terjadi dimana-mana, orang hanya akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Ini juga yang sedang melanda gereja Tuhan. Ketika kita melihat semuanya itu terjadi, apa yang harus kita lakukan ? Tidak ada jalan lain kecuali memberitakan kabar baik, yaitu berita Injil.
Wahyu 19:10 “ …..Karena kesaksian Kristus adalah roh nubuat.”
Nubuat adalah karunia Roh Kudus yang diberikan Tuhan untuk gerejaNya. Karunia nubuat adalah kemampuan untuk mengetahui apa yang akan terjadi pada masa mendatang. Apabila gereja berhenti memberitakan kabar baik hanya karena alasan adanya masa yang sukar, maka gereja akan kehilangan kemampuan untuk membuka rahasia tentang apa yang akan Tuhan lakukan pada masa-masa yang akan datang. Itu berarti gereja akan berjalan di dalam kegelapan. Jadi, sesuai dengan apa yang Alkitab ajarkan : Baik atau tidak baik waktunya, jangan berhenti menginjil.
Tuhan Yesus memberkati.
Pelayan Pendamaian

By: Pdt. R. Bambang Jonan
From: Bethanyr4.or.id
Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung kepadamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang. (Rom 12:18)
Kita semua mengakui bahwa tidak mudah untuk hidup dalam perdamaian dengan semua orang. Jangankan jemaat, bahkan hamba Tuhan sekalipun banyak yang tidak sanggup untuk melakukan ayat ini. Namun yang penting untuk kita renungkan adalah bukan masalah sanggup atau tidak, melainkan mau atau tidak Saudara dan saya hidup dalam perdamaian dengan semua orang.
Ketika saya bertanya mengenai hal ini kepada Tuhan, maka Roh Kudus membukakan suatu pengertian kepada saya, bahwa sesungguhnya “damai sejahtera” adalah salah satu buah dari Roh Kudus. Apabila kita bersedia hidup dipimpin oleh Roh Kudus, maka Roh Kudus akan memunculkan buahNya dalam kehidupan kita.
Saya berdoa agar Saudara sekalian mau memberikan diri untuk hidup dipimpin oleh Roh Kudus, supaya Tuhan mengaruniakan perdamaian kepada kita semua.
Apa yang terjadi bila kita menolak hidup dalam perdamaian ?
Hosea 9:7-8 : “Sudah datang hari-hari penghukuman, sudah datang hari-hari pembalasan, Israel akan mengalaminya, “Nabi adalah seorang pandir, orang yang penuh roh adalah orang gila”, oleh karena besarnya kesalahanmu dan besarnya permusuhan : Efraim, umat Allahku, sedang mengintai nabi, jerat penangkap burung ada di sepanjang jalannya, permusuhan ada di rumah Allahnya. “
Mari kita perhatikan ayat tadi. Dikatakan di sana bahwa nabi adalah seorang yang sangat mengerti pikiran dan perasaan Tuhan. Nabi selalu menyuarakan isi hatiNya Tuhan. Apa yang terjadi bila seorang nabi terlibat dalam sebuah permusuhan ? Ia akan kehilangan semua karunia yang Tuhan titipkan , bahkan firman Tuhan mengatakan ia berubah menjadi seorang yang pandir. Alkitab mencatat bahwa pada hari-hari menjelang kedatanganNya yang kedua pemusuhan akan melanda dunia ini. Bangsa akan bangkit melawan bangsa, deru peperangan akan terdengar dimana-mana, tetapi Tuhan berkehendak agar kita dapat menahan diri menghadapi roh perpecahan dan selalu berusaha hidup dalam perdamaian dengan semua orang..
Apa yang terjadi bila kita mau hidup dalam perdamaian ?
- Roma 16:20 : “Semoga Allah sumber damai sejahtera (God of peace), segera akan menghancurkan iblis di bawah kakimu.” Saudara, tahukah saudara, bahwa Allah sudah lama menanti-nantikan saatnya untuk menghancurkan iblis di bawah kaki saudara ? Berikan kesempatan kepada Tuhan untuk melakukan bagianNya, yakni menghancurkan iblis, dengan cara menempatkan hidup kita di dalam perdamaian dengan semua orang. Saat kita mau berdamai maka Allah segera akan bertindak!
- 1 Tes 5:23 : Semoga Allah damai sejahtera ( God of peace ) menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tidak becacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita. Ayat ini diperuntukkan bagi mereka yang sangat merindukan kedatangan Tuhan Yesus untuk kedua kalinya.Apakah Saudara merindukan Maranatha ? Hiduplah dalam perdamaian, maka Allah akan menguduskan, menyempurnakan roh, tubuh dan jiwa kita. Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita apabila kita mau mengampuni kesalahan orang lain ( mau berdamai ) maka Bapa di Surga juga akan mengampuni dosa kita. Tetapi apabila kita tidak mau mengampuni ( tidak mau berdamai ), maka dosa kitapun tidak akan diampuni. Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa penebusan jiwa seseorang selalu berdasarkan atas pengampunan dosa. Apabila kita menerima pengampunan dosa maka kita termasuk dalam bilangan orang-orang yang ditebus, jika tidak ……….?
- Ibrani 7:2 “ Kepadanya pun Abraham memberikan sepersepuluh dari semuanya. Menurut arti namanya Melkisedek adalah pertama-tama raja kebenaran, dan juga raja Salem, yaitu raja damai sejahtera.”Di dalam Maleakhi 3:10, Tuhan pernah berjanji untuk membukakan tingkap-tingkap langit (floodgates of heaven = pintu-pintu air surga, windows of heaven= jendela-jendela surga), bagi orang yang membawa persembahan persepuluhan. Siapakah Allah yang berjanji di dalam ayat ini ? Ibrani 7:2 tersebut di atas menyingkapkan identitas dari nama atau pribadi Allah yang memberkati kita di dalam Maleakhi 3:10, yakni The God of Peace.Jadi apabila kita membawa persembahan persepuluhan, namun melupakan perdamaian itu sendiri, maka seluruh kelimpahan berkat yang dijanjikan Allah bagi kita itu ( “…Aku akan membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.”) tidak akan dapat kita nikmati.
- Ibrani 10:19-20 ,” Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diriNya sendiri,”. Di dalam Perjanjian Lama hanya Imam Besar Agung yang diperbolehkan masuk ke dalam tempat maha kudus, sedangkan orang awam dilarang. Pada waktu itu tidak seorangpun dari antara umat Tuhan yang dapat berkomunikasi langsung dengan Bapa yang ada di surga, melainkan harus melalui seorang perantara yaitu Imam Besar Agung. Dialah yang akan masuk ke dalam tempat maha kudus pada hari Raya Pendamaian, untuk membawa doa-doa umat ke hadapan Tuhan, sedangkan umat hanya diperkenankan untuk masuk sampai di pelataran bait Allah saja. Pasca kematian Tuhan Yesus, tirai dalam bait Allah yang memisahkan antara ruang kudus dengan ruang maha kudus terbelah menjadi dua, sehingga kedua ruangan itu menjadi satu. Jadi sekarang para imam yang melayani di ruang kudus dapat melihat segala sesuatu yang terdapat dalam ruang maha kudus, dimana hal ini merupakan sesuatu yang dilarang sebelumnya. Lalu siapa yang dimaksudkan dengan para imam ? Dalam surat I Petrus 2:9 dijelaskan bahwa kita ini adalah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani . Setiap orang yang percaya kepada Kristus disebut sebagai imam-imam bagi Allah. Kematian Kristus di atas kayu salib telah membuka jalan bagi imam-imam Allah tersebut untuk dapat masuk langsung ke ruang maha kudus. Sehingga kita tidak lagi membutuhkan seorang perantara untuk dapat mencapai ruang maha kudus, seperti yang terjadi dalam Perjanjian Lama.Kematian Kristus di kayu salib berbicara mengenai pendamaian. Kiranya Kristus, Raja Damai itu, memberikan kekuatan dan kesanggupan kepada kita semua, untuk dapat hidup di dalam perdamaian dengan semua orang.
Tuhan Yesus memberkati Saudara sekalian. Amin.
Bagaimana Penulis Berpikir Ala Penerbit?

By: Edy Zaqeus
From: Pembelajar.com
Belum lama berselang seorang penulis buku dan pembaca seri artikel Write & Grow Rich di Pembelajar.com bertanya kepada saya soal cara menguhubungi penerbit. Penulis buku ini baru saja menyelesaikan naskah yang menarik dan diyakininya akan menjadi gebrakan khusus dalam dunia perbukuan. Kalau tidak salah, buku ini dia prediksi akan disambut baik oleh pasar karena belum pernah ada buku dengan format seperti yang dia gagas. Dengan catatan: itu akan terjadi apabila ide-ide dia untuk sekaligus membidani atau menjadi sutradara penerbitan buku tersebut diamini oleh pihak penerbit.
Hal semacam ini memang jamak terjadi. Saya juga baru saja menerima naskah dari seorang konsultan, yang bermaksud menerbitkan bukunya dalam format tertentu. Hampir sama dengan penulis di atas, konsultan ini menginginkan bukunya diformat sedemikian rupa sehingga bisa membawa dampak positif bagi karirnya sebagai konsultan. Selain itu, ia berharap supaya tampilan bukunya tampak lebih anggun, tidak terkesan murahan, dan punya pengaruh di kalangan profesional di mana dia berkecimpung selama ini.
Sekali lagi, harapan penulis buku seperti itu memang sah-sah saja. Saya sendiri pada awal-awal menekuni dunia penulisan buku, juga suka punya pandangan-pandangan dan harapan seperti tadi. Saat itu, saya selalu punya keyakinan penuh bahwa ide-ide sayalah yang terbaik dan sungguh-sungguh saya percayai akan memberi hasil terbaik pula. Namun, bersamaan dengan semakin banyaknya informasi yang bisa saya timba, langsung dari para penerbit dan editor senior, pengalaman sendiri sebagai penulis dan penerbit, termasuk pengalaman sejumlah penulis buku laris, saya mulai punya perspektif yang lebih lengkap.
Akhirnya saya berkesimpulan, bahwa penting bagi seorang penulis untuk bisa berpikir ala penerbit, terutama penerbit komersil. Sama seperti polisi yang ingin sukses menangkap seorang kriminal, polisi itu harus tahu cara berpikir atau logika orang yang dia buru. Jika tidak, bisa-bisa si polisi itu hanya mengejar angin, karena salah asumsi dan hanya menduga-duga ke mana si kriminal bersembunyi.
Nah, bagaimana penerbit berpikir terhadap setiap naskah buku yang dia terima? Bagaimana penerbit berpikir mengenai buku yang dia produksi? Inilah kisi-kisi logika penerbit bila dikaitkan dengan pasar:
Pertama, penerbit komersil tidak mau menerbitkan karya yang dia prediksi bakal jeblok di pasar. Penerbit hanya mau menerbitkan karya yang bermutu dan mendatangkan keuntungan. Dalam bahasa Wandi S. Brata (GM Produksi Gramedia Pustaka Utama), buku yang tinggi mutunya dan diprediksi bakal laku keras di pasaran adalah primadona penerbit. Naskah akan langsung dapat “lampu hijau” (baca artikelnya di: www.gramedia.com).
Mengapa demikian? Sebab, penerbitan buku adalah sebuah bisnis, sebuah industri, yang mana berlaku pula hukum-hukum ekonomi dan pasar. Jadi, dengan segala kemampuan teknis dan pengalamannya, biasanya penerbit akan berusaha keras mendapatkan naskah-naskah bermutu yang mereka prediksi akan sukses di pasaran.
Bagaimana dengan buku yang bermutu namun tampak kurang menarik di pasaran? Buku seperti ini pasti kena “lampu kuning”. Namun, memang ada sebagian penerbit yang bersedia menerbitkan naskah-naskah semacam ini. Terlebih bila naskah tersebut sesuai dengan visi, misi, dan nilai-nilai idealisme penerbit (ingat, tidak semua penerbit komersil mengabaikan sisi nilai dan idealisme). Akan tetapi kita harus sadar sejak awal, ruang untuk penerbitan buku jenis ini tidaklah lebar. Prasyarat mutu, kompetensi, kredibilitas dan popularitas penulis, barangkali akan semakin dituntut penerbit. Sementara persetujuan atau percepatan proses penerbitannya hanya bisa didapat manakala si penulis mampu meyakinkan idealismenya kepada penerbit, dan pihak penerbit pun harus merasa satu visi dengan si penulis.
Kedua, penerbit suka sekali naskah yang mudah atau sudah siap diproduksi. Maksudnya, jangan sekali-kali memasukkan naskah yang masih mentah, belum lengkap, atau amburadul editingnya. Ini akan membebani penerbit dengan cost tertentu serta memperlambat proses kerja mereka. Khususnya penerbit-penerbit besar dan mapan, setiap bulannya mereka bisa menerima ratusan naskah. Namun, tidak semua naskah tersebut siap diproduksi akibat kekurangan-kekurangan yang saya sebut tadi. Alhasil, hanya naskah yang mudah dan siap produksi saja yang biasanya dipilih.
Itu sebabnya, saya selalu menyarankan kepada para penulis buku maupun klien yang berkonsultasi kepada saya, untuk sabar dalam mempersiapkan naskahnya. Lebih baik mengalokasikan waktu yang cukup untuk merapikan dan melengkapi naskah, ketimbang mengirim naskah apa adanya. Dari sekian banyak kasus yang saya tangani, penerbit benar-benar menyukai naskah yang sudah lengkap, rapi, mudah dan siap diproduksi. Jadi, bila kita ingin naskah kita mudah masuk atau diterima penerbit, berpikirlah sebagaimana penerbit akan memandang dan memperlakukan naskah tersebut. Jangan percaya dengan pandangan bahwa asal naskah kita kualitasnya bagus, otomatis penerbit akan mau berlelah-lelah untuk memprosesnya.
Ketiga, tak peduli penerbit besar maupun kecil, mereka lebih menyukai naskah-naskah buku yang ditulis oleh para penulis yang punya branding yang kuat. Gampangnya, penerbit suka dengan nama-nama yang populer karena ini punya efek terhadap promosi buku yang nantinya akan mereka produksi. Jadi, jangan berkecil hati bila penulis-penulis beken atau yang punya nama, atau tokoh-tokoh non-penulis yang populer sekali yang memnyusun buku, pasti dapat tempat.
Lalu, bagaimana dengan kita yang belum punya branding tertentu? Ya, mulailah mem-branding diri dengan aktif menulis di berbagai media atau saluran. Masuk media massa lebih strategis. Kalau pun belum bisa, masuki dunia internet dengan aktif di website-website populer atau membuat blog. Pokoknya, minimal kalau kita klik Google nama kita ada di sana.
Keempat, penerbit suka dengan penulis yang mau bahu-membahu menjual atau mempromosikan bukunya bersama penerbit. Sebab, anggaran penerbit untuk mempromosikan buku biasanya terbatas. Maklum, mereka banyak menerbitkan buku. Makanya, mereka pasti suka dengan penulis yang mau mempromosikan atau bahkan beriklan di media massa.
Jadi, jika kita memiliki kemampuan untuk mempromosikan buku kita nantinya, baik melalui iklan, promosi seminar, mailling list, iklan di website atau blog pribadi, termasuk melakukan penjualan langsung, sampaikan saja itu semua ke penerbit. Ini benar-benar disukai penerbit.
Nah, pertanyaannya kemudian, bagaimana dengan kita yang memiliki keterbatasan resourches untuk memenuhi pikiran-pikiran penerbit tersebut? Kalau logika mereka seperti itu, bagaimana dengan misi-misi idealisme penerbit? Apakah sudah hilang sama sekali?
Jawaban saya, kita punya banyak pilihan penerbit. Memang, kebanyakan penerbit mapan akan menggunakan logika tersebut dalam menerima naskah. Maklum, ini juag semacam sistem seleksi untuk memudahkan cara kerja mereka serta untuk mendapatkan hasil maksimal. Lagi-lagi ingat, mereka adalah institusi bisnis yang menjadikan profit sebagai kiblatnya.
Namun, tidak semua penerbit memiliki logika semacam itu. Tak sedikit penerbit yang sungguh-sungguh idealis dan mau berlelah-lelah untuk mempertimbangkan naskah bagus, tapi masih memiliki sejumlah kekurangan. Walau begitu, saya tetap punya keyakinan, bahwa penerbit idealis sekalipun pasti lebih senang bila para pemasok naskahnya mau berpikir ala penerbit komersil.[ez]
* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku best-seller, konsultan penulisan & penerbitan, editor Pembelajar.com, dan trainer di Sekolah Penulis Pembelajar (SPP). Ia juga mendirikan Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing yang berhasil menerbitkan sejumlah buku best-seller. Nantikan workshops Edy Zaqeus tentang “Membuat Blog Menjadi Buku”, “Cara Gampang Menerbitkan Buku Sendiri”, dan “Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller” pada November-Desember 2007 ini (Info selengkapnya, hubungi SPP di 021-7828044). Kunjungi blog Edy di: http://ezonwriting.wordpress.com/ atau email: edzaqeus@gmail.com.
8 Langkah Mudah Membuat Penerbitan Mandiri

By: Edy Zaqeus
From: Pembelajar.com
Salah satu pertanyaan yang sering dilayangkan kepada saya adalah soal bagaimana membuat self-publishing atau independent publishing. Self-publihsing adalah kegiatan penerbitan karya-karya sendiri. Sementara, independent publishing umumnya adalah sebuah penerbitan mandiri yang dikelola secara independen, yang menerbitkan karya-karya sendiri maupun karya orang lain. Tak jarang, sebuah penerbitan umum yang berkembang semula diawali dari self/independent publishing.
Seperti saya singgung dalam tulisan-tulisan sebelumnya, salah satu tren perbukuan ke depan adalah maraknya pendirian penerbitan mandiri ini. Mengapa? Ya, karena sekarang membuat penerbitan sendiri sudah sedemikian mudahnya. Selain itu, banyak manfaat yang bisa diambil, selain juga potensi bisnisnya yang lumayan. Saya pun mendapati bahwa minat para penulis untuk membuat penerbitan mandiri ternyata cukup lumayan. Klien-klien saya sendiri juga banyak yang berminat dan akhirnya mendirikan penerbitannya sendiri.
Nah, bagi Anda yang ingin mencoba membuat self-publishing atau independent publishing, saya coba memadatkan segala tetek-bengek pembuatan penerbitan mandiri ini ke dalam delapan langkah berikut.
Pertama, siapkan naskah yang siap terbit dan memenuhi kriteria atau anjuran-anjuran sebagaimana saya tulis dalam buku Resep Cespleng Menulis Buku Best Seller (Gradien, 2005). Naskah siap terbit artinya naskah yang sudah tersunting secara rapi dan lengkap (lihat artikel “Bagaimana Melengkapi dan Mengamankan Naskah Buku?”). Naskah yang sudah rapi dan lengkap akan memudahkan proses penerbitan buku. Sementara, naskah yang tidak lengkap dan rapi bisa sangat merepotkan.
Untuk Anda yang ingin benar-benar mendapatkan manfaat finansial dari ‘petualangan penerbitan’ ini, saya anjurkan supaya benar-benar memilih naskah buku yang berpotensi untuk laku keras. Atau, akan jauh lebih baik lagi bila naskah itu berpotensi menjadi buku best-seller. Apa ciri-cirinya? Saya sudah bahas lengkap dalam artikel-artikel atau buku saya sebelumnya. Kecuali Anda memiliki misi khusus dengan penerbitan naskah tertentu, maka soal laku atau tidak laku memang tidak terlalu memusingkan.
Kedua, siapkan modal yang cukup untuk mencetak dan mempromosikan buku. Perkiraan saya, jika kita bisa efesien sekali dalam proses penerbitan ini, maka dengan modal sekitar Rp15-30 juta kita sudah bisa menerbitkan buku fast book atau buku ukuran 14 x 21 cm dengan rata-rata ketebalan antara 150-200 halaman dan oplah mencapai 3.000 eksemplar. Di sejumlah kota seperti di Yogyakarta, Bandung, Malang, dan Surabaya, kadang dengan modal di bawah Rp10 juta pun bisa jalan dengan jumlah cetak yang lebih sedikit.
Nah, sebagian orang tidak bermasalah dengan modal. Klien-klien saya, terutama yang datang dari lembaga konsultan, perusahaan, atau pembicara publik, biasanya tidak menemui kesulitan soal modal penerbitan. Sementara, bagi sebagian lagi amat bermasalah alias sulit mendapatkan modal. Saya lihat, tak sedikit penulis yang memanfaatkan royalti bukunya untuk memodali dan mengawali penerbitan mandiri mereka. Saya sendiri termasuk yang menempuh jalan ini. Sebagian lain ada yang patungan dengan rekan-rekannya. Prinsipnya, asal ada naskah yang bagus potensi pasarnya, maka modal pasti tidak sulit didapat.
Ketiga, merumuskan nama penerbitan yang menjual. Bagi saya sendiri, ini merupakan satu tahap yang penting dan sangat menarik. Bagaimana tidak? Membuat nama penerbitan layaknya menciptakan sebuah merek produk. Kita menciptakan identitas yang nantinya akan berkembang menjadi sebuah institusi. Sementara mereknya sendiri bisa saja berkembang dan memiliki ekuitas yang tinggi. Bolehlah kita berandai-andai suatu saat penerbitan yang kita lahirkan ini akan besar dan mapan sebagaimana penerbitan-penerbitan lainnya.
Maka dari itu, sekalipun kita bebas memilih nama penerbitan, saya anjurkan supaya Anda memilih atau menciptakan nama penerbitan yang memiliki makna tertentu, sekaligus punya nilai jual. Ketika saya melahirkan Bornrich Publishing, maka bayangan saya adalah sebuah penerbitan buku yang sifatnya menggerakkan motivasi dan etos ekonomi, dan kemudian berujung pada cita-cita kesejahteraan masyarakat. Ketika saya melahirkan Fivestar Publishing, maka bayangan saya adalah sebuah penerbitan yang bertujuan untuk menggerakkan masyarakat supaya bangkit dan mengejar prestasi terbaik.
Khusus untuk lembaga konsultansi atau yayasan, maka inisial atau singkatan dari institusi tersebut juga bagus untuk dipakai sebagai nama penerbitan. Selain membantu branding lembaga tersebut, koneksitas antara penerbitan dengan lembaga tadi juga terasa lebihs erasi. Semisal, Jagadnita adalah sebuah lembaga konsultasi psikologi yang kemudian mendirikan Jagadnita Publishing. Atau Quantum Asia Corpora, sebuah lembaga konsultansi yang kemudian mendirikan QAC Publishing.
Keempat, menyiapkan desain kaver dan tata letak (lay out). Untuk kedua pekerjaan ini, kita bisa melakukannya sendiri bila mampu, atau dengan menggunakan tenaga desain profesional. Kita bisa memanfaatkan tenaga-tenaga desainer freelance atau mereka yang biasanya bekerja di perusahaan penerbitan. Selain itu, kita juga bisa mendapatkan desainer kaver atau penata letak dengan cara mem-posting pengumuman ke milis-milis perbukuan.
Untuk tata letak buku, biayanya bervariasi tergantung pada ketebalan buku serta ornamen-ornamen di dalamnya. Jika naskah buku kita banyak menggunakan grafik, foto, atau detail ornamen yang rumit, maka biaya tata letaknya bisa agak mahal (standar Rp1.500.000-3.000.000). Sementara, tata letak buku yang hanya berisi teks tidak memerlukan biaya mahal karena relatif lebih mudah dikerjakan (standar Rp750.000-1.500.000).
Soal biaya desain kaver bervariasi, tergantung pada siapa yang mengerjakan dan jenis desain yang dikehendaki. Di Yogyakarta, kita bisa mendapatkan desainer kaver standar dengan fee berkisar antara Rp400.000-800.000. Adapun di Jakarta, fee untuk desain kaver standar berkisar antara Rp600.000-1.200.000. Untuk desain-desain tertentu, biayanya bisa lebih mahal. Saya dengar, seorang desainer kaver buku yang cukup punya nama menetapkan fee sebesar Rp10 juta.
Kelima, urus ISBN dan membuat barcode. Setiap judul buku perlu ‘identitas’ yang berlaku secara internasional dengan cara mendapatkan nomor ISBN. Jika sudah mendapat nomor ISBN, maka pekerjaan berikutnya adalah membuat barcode buku. Perpustakaan Nasional, tempat kita mendaftarkan ISBN buku kita, juga melayani pembuatan barcode. Tapi, kita bisa buat sendiri barcode dengan menggunakan program Corel Draw, asal sudah mendapatkan nomor ISBN.
Cara mendapatkan ISBN mudah sekali. Kita cukup menyiapkan satu surat permohonan ISBN (ditujukan kepada Kepala Perpustakaan Nasional u.p. bagian ISBN) dengan dilengkapi fotokopi halaman judul buku, halaman hak cipta, daftar isi, dan pendahuluan. Berkas bisa dikirim via pos, faksimili, atau diantar langsung ke Gedung Perpustakaan Nasional RI (lantai 2) di Jalan Salemba Raya 28-A, Jakarta (Telp: 021-3101411 psw 437). Bila kita baru pertama kali menerbitkan buku, maka kita akan diminta mengisi formulir keanggotaan ISBN. Kita akan mendapatkan kartu keanggotaan ISBN dan penerbitan kita tercatat di Perpustakaan Nasional. Pengalaman saya, mengurus ISBN berlangsung cepat, tak kurang dari 15 menit dan hanya membutuhkan biaya administrasi Rp25.000 (tanpa film barcode) untuk setiap judul buku.
Keenam, memilih percetakan yang tepat. Ada banyak jenis percetakan, tetapi pastikan untuk hanya memilih percetakan yang sudah berpengalaman dalam mencetak buku. Jangan pilih sembarang percetakan, terlebih percetakan yang hanya sekali-sekali mencetak buku. Jangan pula tergoda dengan percetakan yang asal murah. Terpenting adalah kualitas cetak dengan harga yang wajar. Ingat, produk buku punya bobot lain dibanding materi-materi cetak lainnya. Kalau kualitas cetaknya buruk, lupakanlah soal kredibilitas, kepercayaan, dan soal brand penerbitan maupun penulisnya.
Jika kita seorang pemula dalam penerbitan buku, usahakan mendapat pelayanan dari staf marketing percetakan tersebut. Pengalaman saya dan klien-klien saya, hampir setiap percetakan yang baik pasti menyediakan staf marketing yang siap melayani kliennya. Berurusan dengan percetakan seperti ini, kita bisa tinggal menyerahkan materi cetak, sementara mereka yang akan mengurus detailnya. Dan untuk amannya, pastikan pula kita bisa bersinergi dengan bagian percetakan dan desainer kaver maupun penata letak isi buku.
Ketujuh, menentukan harga jual buku. Setelah mengetahui biaya cetak dan komponen-komponen biaya lainnya (desain kaver, tata letak, editing, promosi), maka kita sudah bisa memperkirakan harga jual buku nantinya. Bagaiamana rumusannya? Mudah: seluruh biaya produksi dibagi dengan jumlah oplah buku, lalu dikalikan lima, hasilnya adalah harga jual buku kita. Contoh, biaya produksi Rp24.000.000 dibagi jumlah cetak 3.000 eksemplar (ketemu harga produksi @ Rp8.000) dikalikan lima = Rp40.000. Jadi, harga jual buku kita di toko nantinya Rp40.000.
Formula harga di atas adalah yang paling umum digunakan dan membuat harga buku tetap terjangkau. Yang saya amati, ada pula yang menggunakan bilangan pengali antara 6-7 kali untuk menetapkan harga jual. Akibatnya, harga buku menjadi jauh lebih mahal. Di satu sisi ini menguntungkan penerbit, di sisi lain ini berisiko juga, karena harga yang terlalu tinggi juga mempengaruhi minat beli komsumen. Oleh karena itu, pada kesempatan pertama menerbitkan buku, jangan pernah tergoda untuk melambungkan harga buku. Bila ingin mengunakan angka pengali lebih dari lima, pertimbangkan betul-betul daya serap pasar nantinya. Bila perlu, mintalah masukan dari konsultan penerbitan, distributor, atau toko buku kerena merekalah yang paham soal itu.
Kedelapan, mengadakan perjanjian distribusi dengan distributor. Pada saat naskah buku naik cetak, kita sudah harus mendapatkan distributor buku. Sebab, bila kita sudah mendapatkan distributor buku saat proses pencetakan berlangsung, maka selesai cetak buku itu bisa langsung dikirim ke gudang distributor. Distributor buku adalah salah satu pilar utama bisnis penerbitan, selain toko buku dan penerbit itu sendiri. Sebagai penerbit, bisa saja kita berkeliling dari toko ke toko untuk menawarkan buku kita (konsinyasi atau beli putus). Tapi, untuk menghemat tenaga, menjangkau toko-toko secara nasional, dan mempermudah persoalan administrasi, lebih baik kita menggunakan jasa distributor.
Banyak distributor buku dengan kekuatan maupun kekurangannya masing-masing. Hampir semuanya menggunakan sistem konsinyasi (beli kredit atau pembayaran sesuai dengan jumlah buku yang laku). Ada yang lingkupnya nasional serta menjangkau hampir seluruh toko buku, ada pula yang lingkupnya lokal dan hanya menjangkau toko-toko buku tertentu. Diskon yang diminta oleh distributor (yang nantinya dibagi dengan toko-toko buku) berkisar antara 45-60 persen dari harga jual buku. Soal diskon, kita bisa bernegosiasi dengan pihak distributor dan kemudian kerjasama itu dibuat dalam format kontrak kerjasama pendistribusian.
Nantinya, sebulan sekali kita akan menerima laporan penjualan buku kita. Sementara, jatuh tempo pembayaran bervariasi antara distributor yang satu dengan yang lain. Ada distributor yang sudah bisa membayar dalam setengah bulan, namun ada pula yang baru membayar dua bulan setelah laporan penjualan kita terima. Semua ketentuan itu termaktub dalam kontrak kerjasama.
Pada intinya, delapan langkah itulah yang kita butuhkan untuk mendirikan sebuah penerbitan mandiri. Kedelapan langkah tersebut sudah mencakup persiapan penerbitan hingga peredaran buku ke pasaran. Sebab, begitu buku kita sudah sampai di tangan distributor, maka biasanya seminggu kemudian buku tersebut sudah beredar di toko-toko buku. Sebagai penerbit, kita sudah menyelesaikan satu rangkaian proses produksi atau penerbitan buku.
Dan, begitu buku produksi penerbitan mandiri kita beredar di toko-toko, maka sejak itulah merek penerbitan kita resmi beredar di tengah-tengah khalayak. Tugas kita selanjutnya sebagai penerbit adalah membuat gema promosi dengan berbagai aktivitas supaya khalayak tertarik dan kemudian membelinya.
Tapi, saya sering mendapat pertanyaan begini, “Apakah membuat penerbitan mandiri itu harus disertai dengan pendirian badan usaha semacam PT atau setidaknya CV? Bagiamana soal pajak dan sebagainya?” Jawaban saya standar saja, tidak selalu. Apabila penerbitan ini formatnya self-publishing atau independent publishing, terlebih bila masih coba-coba menemukan format, mengapa harus di-PT-kan? Langkah itu akan menambah beban biaya lagi, sementara ‘petualangan penerbitan’ belum tentu menguntungkan.
Nah, apabila nantinya penerbitan yang kita bangun itu menguntungkan, bisa memproduksi buku lebih banyak lagi, bisa mempekerjakan beberapa orang, manajemen sudah dirapikan, urusan pajak sudah dipersiapkan dan ditata dengan lebih baik, silakan bentuk badan usahanya. Dunia penerbitan kita banyak diwarnai oleh langkah-langkah semacam ini. Hampir semua penerbit kecil atau independen pada awalnya berusaha memperkuat bisnisnya dulu. Setelah mampu memperkuat basis bisnisnya dengan terus mengembangkan diri, barulah kemudian membakukan penerbitannya dalam sebuah badan hukum dan kemudian memproklamirkan diri menjadi penerbitan umum. Jadi, tunggu apa lagi? Selamat mendirikan penerbitan mandiri.[ez]
* Edy Zaqeus adalah editor Pembelajar.com, penulis buku-buku best-seller, penerbit buku, dan konsultan penerbitan. Ia mendirikan Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing yang melahirkan buku-buku laris. Ia juga telah membantu banyak klien dalam melahirkan buku-buku bestseller dan mendirikan penerbitan mandiri. Edy dapat dihubungi melalui email: edzaqeus@yahoo.com
11 Resep Cespleng Mengatasi Kemacetan Menulis

By: Edy Zaqeus
From: Pembelajar.com
Seri Artikel Write & Grow Rich
“Kemacetan menulis semata-mata adalah soal motivasi, bukan soal teknik penulisan. Jika kita bisa bangkitkan motivasi kembali, maka tidak ada lagi kemacetan menulis.”
~ Edy Zaqeus
Ketika saya baru saja mendapatkan ide tema buku yang saya anggap sangat potensial untuk jadi buku best-seller, maka gairah dan semangat saya untuk menulis begitu meluap-luap dan seolah tak terbendung lagi. Ketika mencoba menuliskan gagasan-gagasan itu, ternyata aliran ide seperti membanjir dan menulis seperti tidak mau berhenti. Kalau sudah begini, serasa naskah buku bisa diselesaikan dalam waktu secepat-cepatnya. Terlebih lagi bila teknik menulis cepat bisa dijalankan dengan semaksimal mungkin.
Namun, penulis juga manusia. Yang namanya semangat atau gairah menulis itu bisa naik turun kapan saja dan karena aneka sebab. Mungkin karena kehilangan konsentrasi, interupsi oleh kesibukan lain, muncul rasa malas, menunda-nunda, atau karena tiba-tiba mood lagi turun, maka sebentar saja kemacetan membayangi proses penulisan. Saya sering juga mengalami hal semacam ini. Dan, saya yakin hampir semua penulis, baik pemula maupun yang sudah sangat berpengalaman pun, pasti pernah mengalami kemacetan dalam menulis.
Jadi, manakala sedang macet menulis, kita tidak perlu panik. Ini wajar, lumrah banget! Yang tidak lumrah alias berbahaya adalah bila kita, dari semula yang cuma macet temporal atau sementara, lalu jadi macet permanen. Dengan kata lain, akan berbahaya sekali bila kita jadi hilang motivasi dalam melanjutkan proses penulisan. Dan kemudian, kita mulai beranggapan bahwa diri kita memang tidak mampu menulis buku.
Karena kemacetan menulis adalah gejala yang wajar, maka sesungguhnya yang membedakan kualitas seorang penulis adalah pada penyikapan terhadap masalah ini. Penulis yang belum matang akan mudah dipatahkan semangatnya oleh masalah-masalah yang menghambat proses kreatif mereka. Sementara, penulis berpengalaman dan bermotivasi tinggi selalu mencari cara untuk memecahkan masalah yang dia hadapi.
Menurut pengamatan saya, penulis yang belum matang dan rendah motivasinya akan cenderung mencari berbagai alasan pembenar atas kemacetan yang dia alami. Sedikit demi sedikit, dia akan undur diri dan kemudian “tutup buku”, alias menyerah.
Sementara, penulis berpengalaman bisa saja macet atau mengalami beragam kesulitan. Tetapi, dalam kemacetan dan kesulitan-kesulitannya itu, dia terus memacu diri untuk segera mencari jalan keluar. Kalau pun gagal menyelesaikan suatu tema tulisan, dia tidak menyerah. Tapi, segera saja dia beralih ke proses penulisan lainnya. Dia bisa beralih, mungkin juga berhenti sejenak, tetapi tidak menyerah atau berhenti secara permanen.
Dari berbagai wawancara saya dengan para penulis best-seller (baca di Pembelajar.com), saya dapati bahwa setiap penulis punya cara-cara yang unik untuk mengatasi kemacetan. Saya sendiri juga mengembangkan cara-cara yang khas untuk menyelesaikan problem tersebut. Saya yakin, sebagian besar di antara cara-cara yang akan saya paparkan di bawah ini mungkin sudah pernah Anda coba. Atau, mungkin malah sudah merupakan bagian dari cara Anda mengatasi kemacetan. Baiklah, kita sharing bersama-sama mengatasi momok kemacetan.
1. Berhentilah dan lakukan relaksasi. Ketika mulai penat dan kebingungan meneruskan proses penulisan, saya langsung berhenti sejenak. Saya tinggalkan laptop dan langsung saja mencoba relaksasi. Relaksasi tidak harus seperti orang bermeditasi, tapi bisa saja hanya jalan-jalan mengelilingi ruangan, cari angin di depan rumah, membasuh muka, mendengarkan instrumen musik yang lembut. Pada saat yang sama, saya terus berusaha menenangkan diri atau kalau bisa mengosongkan pikiran. Biasanya, setelah pikiran relatif lebih relaks dan mendapatkan kesegaran, tanpa disengaja pun bisa muncul ide-ide dan semangat baru untuk melanjutkan proses penulisan.
2. Berhenti dan mainkan game apa saja. Ini sebenarnya untuk mengatasi kelelahan dan kebosanan saat menulis. Ada kalanya ketika macet lalu main game di laptop, tiba-tiba justru muncul ide-ide baru yang menarik. Kalau sudah begitu, saya justru ingin cepat-cepat menyelesaikan permainan dan segera menuliskan ide tersebut. Intinya, saya alihkan perhatian atau ambil jarak sejenak dengan proses penulisan. Tapi, hati-hati juga kalau sampai keterusan main game.
3. Bongkar bank ide dan tulislah apa saja. Apabila yang muncul baru sejenis kebosanan atau rasa penat, saya suka berhenti sejenak, lalu melihat-lihat bank tema atau daftar ide judul buku yang saya kumpulkan. Saya sudah berhasil menginventarisir lebih dari 700-an judul atau tema. Kadang dengan melihat-lihat bank ide tersebut, saya jadi berminat menuliskan sesuatu di bawahnya. Pokoknya, menulis apa saja. Tak jarang, dari situ malah muncul ide-ide yang lebih fresh. Dan, sering pula proses tersebut mendorong saya untuk kembali dalam proses penulisan naskah yang sempat terhenti sejenak.
4. Buat kotak sampah tulisan. Adakalanya kemacetan disebabkan oleh suatu kalimat, konsep, kasus, contoh, bab, subbab, atau hanya suatu paragraf yang sulit dikembangkan lagi atau diuntai dengan paragraf-paragraf berikutnya. Ketika akan dibuang, kita merasa sayang, karena mungkin itu merupakan gagasan genuine. Tetapi, bila tidak dibuang, gagasan itu malah jadi biang kemacetan. Menghadapi situasi ini, saya suka menyediakan “kotak sampah ide” untuk mengenyahkan sementara bagian-bagian yang menjadi penyebab kemacetan. Sebelum tulisan selesai, bagian ini tidak perlu di-deleate. Siapa tahu, kita masih bisa mendaur ulang gagasan-gagasan tersebut?
5. Keluar rumah dan bicaralah dengan siapa saja. Ini cara yang paling umum, yaitu keluar rumah dan menjumpai rekan-rekan yang kurang lebih punya minat sama. Kita bisa ketemu mereka di toko buku, mal-mal, kafe, ajang pameran dan diskusi buku, atau cukup ngobrol sejenak dengan tetangga sebelah. Dalam kesempatan ngobrol santai semacam ini, saya suka iseng bertanya kepada mereka soal bagaimana cara mengatasi kebosanan atau kemacetan menulis. Biasanya, mereka jadi antusias bercerita, sementara saya pun ketambahan banyak ide baru. Sama-sama menyenangkan, bukan?
6. Baca lagi artikel-artikel atau buku-buku penulisan yang memotivasi. Untuk artikel-artikel yang memotivasi, kita bisa dapatkan di situs-situs penulisan atau situs penerbit buku. Sementara untuk buku penulisan, favorit saya adalah karya Arswendo Atmowiloto dan Andrias Harefa. Menurut kedua penulis produktif ini, menulis itu gampang sekali. Nah, karena ide-ide mereka yang serba gampang itu, saya pun jadi ikut-ikutan merasa bahwa menulis itu memang gampang. Proses menulis memang harus dibuat gampang, bukan malah dipersulit. Kalau pikiran terus-menerus disugesti bahwa menulis itu gampang, yakin saja, menulis bisa jadi gampang beneran.
7. Baca wawancara-wawancara penulis sukses. Ini salah satu cara favorit saya karena benar-benar bisa memotivasi proses penulisan. Bila saya ingin lebih mengenal gagasan penulis tertentu, saya tinggal mencari wawancara media si penulis melalui mesin pencari Google atau Yahoo. Saya juga suka membaca ulang hasil wawancara saya dengan banyak penulis sukses yang ditayangkan di rubrik wawancara Pembelajar.com. Sambil membaca, saya terus memotivasi diri, bahwa kalau orang lain bisa berhasil, saya pun pasti bisa. Selalu, ada satu atau dua kalimat dari para penulis sukses tersebut yang menginspirasi dan memicu semangat saya untuk melanjutkan proses penulisan.
8. Bertegur sapa dengan penulis-motivator. Selain untuk menghilangkan kejenuhan dan kemacetan, cara ini juga ampuh untuk menaikkan motivasi yang lagi turun. Penulis motivator adalah para penulis yang bisa memberikan inspirasi, dorongan, dan semangat kepada penulis-penulis lain untuk terus berkarya serta lebih produktif lagi. Hanya dengan mengirimkan e-mail atau SMS, serta mendapatkan sepatah dua patah kata yang membesarkan hati, maka semangat bisa timbul lagi. Kalau minta tanda tangan di buku mereka, saya pun biasa minta dituliskan sebuah kalimat penyemangat. Dengan membaca ulang kalimat tersebut, SMS, atau e-mail mereka, semangat menulis naik lagi.
9. Mimpikan sukses dalam dunia penulisan. Ini juga cara favorit saya. Kalau pikiran lagi sulit diajak bekerja dan susah diajak memproduksi gagasan-gagasan bagus, maka ajak saja bermimpi yang enak-enak. Sejak dulu sampai sekarang, saya paling suka bermimpi bisa menulis buku yang terjual ratusan ribu eksemplar, serta menghasilkan royalti sampai miliaran rupiah. Saya juga bayangkan betapa enaknya bisa jadi penulis sukses secara finansial macam JK Rowling, Dab Brown, John Grisham, Robert Kiyosaki, atau Ari Ginanjar, dll. Sambil bermimpi dan membuai diri seperti itu, saya juga selipkan pertanyaan gugatan, “Apa yang sudah kamu lakukan untuk bisa seperti mereka?!”
10. Unjuk sebagian karya ke ranah publik. Cara lain yang tak kalah ampuhnya adalah dengan memublikasikan sebagian tulisan ke berbagai media, seperti buletin internal, forum milis, website, blog, surat kabar, atau majalah. Misalnya, naskah buku kita terdiri dari beberapa bab atau tulisan. Maka, tak ada salahnya memublikasikan sebagian di antaranya ke sejumlah saluran media supaya mendapatkan feedback. Kalau pun tidak ada feedback, kita toh sudah bisa merasakan efek kebanggaan tertentu manakala karya kita bisa dibaca orang lain. Hal-hal kecil ini bisa berdampak positif dan kadang mampu memancing kemungkinan atau peluang-peluang yang tidak pernah diduga sebelumnya.
11. Bergabung dan aktiflah dalam forum atau komunitas penulisan. Banyak forum bisa menjadi sumber inspirasi maupun pemelihara motivasi menulis, seperti pameran buku, acara diskusi atau bedah buku, seminar atau pelatihan menulis. Kadang waktu dan kesibukan begitu membatasi, tetapi minimal bergabung dan pantaulah milis-milis penulisan. Komunitas maya merupakan ajang untuk menjalin network dan berbagi informasi yang nantinya pasti amat kita butuhkan.
Saya teramat yakin bahwa kemacetan menulis semata-mata adalah soal motivasi, bukan soal teknik penulisan. Jika kita bisa membangkitkan motivasi kembali, maka tidak ada lagi kemacetan menulis. Teknik penulisan bisa dipelajari dan didapatkan dengan mudah. Tetapi, menjalankan teknik itu butuh niat, orientasi, dan motivasi. Tanpa motivasi menulis, teknik seampuh apa pun tidak akan jalan. Maka dari itu, begitu kita dapatkan kembali motivasi menulis, segera saja tancap gas dengan menulis cepat dan berusaha menyelesaikan tulisan kita.
Dan, satu lagi yang amat penting. Kita boleh saja mencari sumber-sumber motivasi dari luar diri kita sebagai pelengkap. Tetapi, jangan pernah menggantungkan diri pada sumber motivasi dari luar diri kita. Menggantungkan diri pada pihak atau sesuatu di luar kontrol kita bisa berbahaya sekali. Lebih baik kita terus-menerus mengenali diri kita dan terus belajar mencari cara supaya mampu menumbuhkan motivasi dari dalam. Karena, pusat sumber motivasi harus ada dalam diri kita.[ez]
* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku best-seller, konsultan penulisan & penerbitan, editor Pembelajar.com, dan trainer di Sekolah Penulis Pembelajar (SPP). Ia juga mendirikan Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing yang berhasil menerbitkan sejumlah buku best-seller. Kunjungi blog Edy di: http://ezonwriting.wordpress.com atau email: edzaqeus@yahoo.com.
7 Manfaat Blog Bagi Penulis

By: Edy Zaqeus
From: Pembelajar.com
Seri Artikel Blogging & Publishing
Belakangan ini, saya lumayan gencar mendorong sahabat-sahabat penulis maupun siapa saja yang sedang belajar mengembangkan kemampuan menulis untuk membuat weblog atau blog. Saking bersemangatnya, sampai ada rekan yang berseloroh, “Wah, bikin blog-nya aja belum genap sebulan. Tapi, cara ngomporinnya udah semangat 45!” Diledek begini saya langsung ngeles (berkilah), “Lho, nge-blog-nya di Ezonwriting.wordpress.com boleh baru. Tapi, nulis di media media online kan udah dari dulu?” Dan, rekan ini cuma bilang, “Ya, whatever-lah…!”
Kali ini, saya ingin menekankan kembali betapa media blog ini punya banyak manfaat bagi penulis, atau siapa saja yang sedang belajar menulis. Bagi saya, blog sebenarnya punya karakteristik yang hampir sama dengan website biasa seperti Pembelajar.com atau beragam website lainnya. Bedanya hanya sedikit, yaitu pada kemudahan pembuatannya, pengelolaannya, template yang tersedia, serta sifat gratisan namun dengan menu-menu pendukung yang berlimpah.
Saya tidak akan bahas hal teknis soal beda website biasa dengan blog di sini karena memang bukan kompetensi saya. Yang ingin saya garis bawahi adalah bahwa siapa pun sekarang bisa memiliki blog dengan tampilan profesional (layaknya website biasa yang cantik) secara gratis dan mudah. Nah, blog ini ibarat rumah kita di dunia maya yang bisa didandani dan dimodifikasi sedemikian rupa, serta dimanfaatkan sesuai kebutuhan kita. Dalam konteks tulisan ini, kita akan ulas manfaat blog dari segi kepenulisan.
Baik, dari pengamatan saya, ada sejumlah manfaat blog bagi penulis atau siapa pun yang sedang mengembangkan kemampuan menulisnya. Berikut di antaranya.
Pertama, blog menjadi sarana publikasi tulisan yang termudah sekaligus strategis. Kita sudah pada tahu, salah satu masalah utama yang dialami kebanyakan penulis—terlebih lagi penulis pemula—adalah soal wadah publikasi. Media massa umum seperti koran, tabloid, majalah, jurnal, sering kali terbatas ruangnya dan mematok standar kualitas tulisan tertentu. Setiap hari, ribuan tulisan masuk ke meja redaksi berbagai media massa, tapi hanya sedikit saja yang bisa dimuat.
Nah, selain sejumlah website yang menerima kontribusi tulisan dari luar, blog bisa jadi solusi bagi tulisan-tulisan yang tidak tertampung itu. Manakala tulisan ditampilkan di blog, aslinya tulisan itu sudah punya “nyawa” dan mendatangkan pengaruh. Hanya tulisan yang dipublikasikan saja yang punya nyawa dan pengaruh kepada pembacanya. Blog bisa menjadi alat untuk menghidupkan tulisan kita.
Lalu, apa strategisnya memublikasikan tulisan di blog? Nilai strategisnya sedikit berbeda dengan media offline macam surat kabar. Tulisan yang dimuat di surat kabar belum tentu bisa diakses melalui internet, kalau surat kabar tersebut tidak online. Tulisan di blog jelas online, dan pada tingkatan tertentu, tulisan tersebut mudah diakses melalui search engine. Jejak di search engine inilah yang punya nilai startegis.
Kedua, tulisan di blog mudah sekali dikomentari dan feedback ini banyak manfaatnya. Asal menu komentar tidak ditutup, maka siapa pun yang membaca tulisan kita bisa berkomentar apa saja di sana. Memang, untuk blog yang aktif serta sering dikunjungi, komentar mudah sekali didapat dan jumlahnya bisa banyak sekali. Sementara, blog yang kurang aktif, jarang ditaut (di-link), dan jarang dikunjungi biasanya juga tidak banyak komentarnya.
Banyak orang belum sepenuhnya aware dengan peran komentar atau feedback tulisan ini. Bagi penulis, komentar atas tulisan sungguh merupakan alat uji bagi tulisan itu sendiri. Positif atau negatif komentarnya, itu semua bisa menjadi bahan perbaikan tulisan atau bagian dari proses pembelajaran penulisnya. Bahkan, banyak sekali ide-ide baru yang bisa dielaborasi dan dieksplorasi dari lalu lintas komentar tersebut.
Ketiga, blog bisa menjadi alat penumbuh kebiasaan dan keteraturan menulis. Bagaimanapun, setelah punya blog biasanya kita akan terdorong untuk terus mengisinya dengan berbagai bentuk tulisan. Terlebih bila tulisan-tulisan kita mendapatkan sambutan atau aneka komentar dari para pengunjung. Ini akan memotivasi kita untuk rajin mem-posting tulisan. Bagi mereka yang sedang belajar menulis, komentar atau tanggapan blogger (penulis blog) lain ini akan sangat besar artinya.
Khusus untuk para blogger yang sudah memiliki jaringan luas serta setiap tulisannnya dinantikan, pastilah ada semacam dorongan untuk terus mengisi blog-nya. Tulisan-tulisan terbaru para blogger yang sudah cukup bergaung namanya atau terkenal biasanya juga selalu dinantikan. Bila mereka mulai mengendor atau jarang meng-update blog, pasti ada keluhan dari para pengunjung setia. Jika ini keterusan, pengunjung bisa menurun dan akan kurang menguntungkan si blogger.
Keempat, menulis di blog secara rutin juga berdampak pada kemampuan kita dalam menuangkan gagasan. Makin sering menulis di blog, rasanya akan semakin mudah pula mengeluarkan ide-ide dalam bentuk tulisan. Ini sama persis dengan kegiatan menulis diari sehari-hari. Semakin sering kita mengisi diari, semakin mudah dan lancar pula kita menulis.
Kelima, blog bisa menjadi ajang ekspresi yang bebas hambatan sama sekali. Ini memungkinkan tulisan-tulisan yang dalam kacamata umum mungkin dianggap kurang pantas, terlalu absurd, atau melanggar aturan-aturan tertentu, di blog malah mendapatkan saluran seluas-luasnya. Blog bisa menjadi saluran gagasan-gagasan alternatif, bahkan yang paling ekstrim sekalipun. Ini yang tidak mungkin diwadahi oleh media konvensional.
Sifat blog yang bisa diisi oleh siapa pun, dengan jenis tulisan apa pun, serta dengan segala tingkatan kemampuan menulis, membuatnya menjadi ajang ekspresi intelektual yang sangat konstruktif. Sumirnya batas-batas tersebut (karena penulis sendirilah yang menetapkan batasannya) bisa merangsang blogger menuliskan apa saja serta menambahkan keberanian dalam berekspresi. Nah, sisi keberanian berekspresi inilah yang bisa mendongkrak kemampuan menulis seseorang.
Keenam, blog adalah tempat kita untuk menabung tulisan. Satu demi satu kita isi blog dengan beragam tulisan, maka lama kelamaan blog kita akan penuh juga. Bagus sekali bila mayoritas tulisan yang kita tampilkan di blog adalah karya sendiri. Terlebih bila blog memang kita jadikan sebagai sarana untuk berlatih menulis dan menampung tulisan-tulisan karya sendiri.
Pada saatnya nanti, tulisan-tulisan di blog bisa kita oleh menjadi karya lainnya, buku misalnya. Kalau tulisan sudah terkumpul dan temanya memiliki benang merah tertentu, serta dari sisi kualitas memang memenuhi syarat untuk dibukukan, mengapa tidak dibukukan? Potensi inilah yang tampaknya belum banyak dilirik oleh para blogger. Saya termasuk yang sedang mendorong-dorong para blogger supaya ngeh dengan potensi blog untuk dibukukan.
Ketujuh, blog bisa berfungsi sebagai media personal branding. Blog bisa menjadi ajang unjuk ide, pikiran, karya, tulisan, serta pencitraan. Lima tahun yang lalu mungkin Anda tidak mengenal siapa itu Enda Nasution, Priyadi, Fatih Syuhud, Jennie S. Bev, dan para blogger kenamaan saat ini. Kalaupun sudah mengenalnya, mungkin hanya sayup-sayup belaka. Tapi, berkat kiprah mereka di dunia maya melalui blog, mereka kini dikenal menjadi orang-orang beken di dunia blog Tanah Air. Itu artinya, mereka berhasil membangun merek diri melalui blog. Tinggal pemanfaatan ekuitas mereknya saja akan seperti apa nantinya.
Blog bisa membuat seorang penulis yang “bukan siapa-siapa” menjadi penulis yang bisa “dikenal oleh siapa saja”. Interkoneksi antara blog dengan mesin pencari dan kebutuhan akan data oleh pengguna internet, ternyata telah menciptakan situasi kesalingterhubungan alias saling kenal. Terpaut dengan segala aktivitas maya lainnya, maka situasi itulah yang akhirnya bisa memupuk brand seseorang.
Nah, berangkat dari tujuh keuntungan atau manfaat tersebut, saya kembali mengajak Anda para penulis maupun siapa saja yang sedang belajar menulis, ayo buat blog penulisan. Wadah publikasi tulisan sudah bukan barang langka dan sakral lagi. Semua orang bisa nge-blog dan menjadi “sesuatu” yang berarti karena aktivitas tersebut. Ok, sampai ketemu di dunia blog dan temukan semakin banyak manfaat di sana.[ez]
* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku best-seller, konsultan penulisan & penerbitan, editor Pembelajar.com, dan trainer di Sekolah Penulis Pembelajar (SPP). Ia juga mendirikan Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing yang berhasil menerbitkan sejumlah buku best-seller. Nantikan workshops Edy Zaqeus tentang “Membuat Blog Menjadi Buku”, “Cara Gampang Menerbitkan Buku Sendiri”, dan “Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller” pada November-Desember 2007 ini (Info selengkapnya, hubungi SPP di 021-7828044). Kunjungi blog Edy di: http://ezonwriting.wordpress.com atau email: edzaqeus@gmail.com.
Sebelas Fakta Penting Buku Bestseller

By: Edy Zaqeus
From: Pembelajar.com
Seri Artikel Write & Grow Rich
Jika tidak ada aral melintang, maka pertengahan Desember 2007 ini saya akan meluncurkan cetakan ketiga atau edisi revisi buku saya yang berjudul Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller (RCMBB). Banyak informasi terbaru saya tambahkan dalam buku yang terbit perdana tahun 2005 tersebut. Tak kurang dari 11 bab baru saya masukkan (semula hanya 17 bab kini menjadi 28 bab) untuk menambah bobot buku ini. Saya memang memaksudkan RCMBB edisi revisi ini sebagai sebuah ‘masterpiece’, hasil metamorfosis dari fast book yang begitu sederhana.
Sementara, untuk ‘aksesoris’—yang ini juga tidak kalah penting—sekitar 39 testimoni saya lampirkan di halaman depan. Mayoritas testimoni ini datang dari para pembaca buku RCMBB edisi perdana yang kemudian berhasil menulis buku pertamanya. Atau, testimoni juga datang dari para penulis yang terinspirasi untuk semakin produktif menulis gara-gara buku tersebut.
Nah, dua tahun berlalu sejak pertama kali buku ini terbit, rasanya tambah banyak pula informasi dari perkembangan dunia perbukuan nasional yang perlu dicermati. Salah satu tema yang tetap saja menyedot perhatian saya adalah soal misteri mengapa sebuah buku bisa meledak di pasaran atau menjadi bestseller. Masalah inilah yang coba saya kupas tuntas dalam buku RCMBB edisi revisi tersebut.
Dalam tulisan ini, saya akan coba simpulkan temuan-temuan saya selama ini perihal mengapa dan bagaimana sebuah buku bisa jadi bestseller. Berikut pemaparannya.
Pertama, tema buku yang unik, baru, dan menarik, biasanya punya kans untuk jadi bestseller. Apakah semua tema yang semacam itu selalu jadi bestseller? Tidak juga. Tapi, tema-tema buku dengan keunggulan seperti saya sebut tadi, biasanya selalu jadi langganan bestseller. Ambil contoh buku True Power of Water karya Masaru Emoto yang benar-benar menyuguhkan sebuah fenomena baru yang menarik. Karena isi bukunya memang cukup unik, sangat menarik, dan baru—atau paling tidak semakin meneguhkan fenomena lama berdasarkan bukti-bukti baru—maka larislah buku terjemahan tersebut.
Untuk kasus nasional, tengok sukses buku Quantum Ikhlas karya Erbe Sentanu. Mungkin kita sudah sering mendengar istilah-istilah kuantum (quantum) yang digandengkan dengan berbagai konsep lainnya, seperti quantum leadership, quantum writing, atau quantum learning, dll. Tapi, begitu muncul lagi istilah baru dan unik, quantum ikhlas, orang tertarik pula. Terlebih karena isi bukunya juga menarik dan relatif menyajikan alternatif baru.
Kedua, tema-tema yang sejatinya tergolong lama ternyata bisa meledak lagi jika dikemas ulang secara lebih cerdas. Contoh, apalagi kalau bukan buku terjemahan The Secret: Mukjizat Berpikir Positif. Rhonda Byrne, si penulisnya, pun mengakui hal ‘ketidakbaruan’ isi bukunya itu. Kombinasi antara kecerdasan pengemasan ulang serta dampak publikasi medialah yang mendukung kesuksesan buku tersebut.
Untuk kasus nasional, lihat sukses Jakarta Undercover karya Moamar Emka. Mungkin Anda pernah baca buku Remang-Remang Jakarta yang terbit tahun 1980-an. Temanya sama, tapi kemasan, kasus, serta cara penulisannya yang agak berbeda sehingga mendatangkan hasil yang berbeda pula.
Ketiga, kemasan bernuansa religius bisa menjadi magnet tersendiri. Lihat saja, sebelumnya buku-buku pengembangan diri dan cara berpikir positif didominasi oleh penulis-penulis Barat yang identik dengan nonmuslim. Begitu muncul buku pengembangan diri terjemahan bernuansa islami semacam La Tahzan Jangan Bersedih karya Aidh Al Qarni, maka meledaklah buku tersebut.
Mirip dengan itu, lihat saja tema emotional and spiritual quotient. Ini bukan barang baru di Barat sana. Namun, ketika di sini dikemas dalam nilai-nilai islami, lahirlah buku ESQ dan ESQ Power karya Ary Ginanjar yang sukses spektakuler. Lihat saja nanti, pasti akan lahir lebih banyak buku yang membahas teori-teori atau konsep-konsep populer secara islami. Pasar untuk buku-buku populer bernuansa religius semacam ini pasti makin membengkak dari tahun ke tahun.
Keempat, tema-tema buku yang menguak suatu rahasia atau misteri juga terus menyedot perhatian. Terlebih bila misteri itu sempat menjadi perhatian publik secara luas. Contoh mudahnya yang masuk kategori ini ya The Secret atau Jakarta Undercover. Tapi, contoh lain yang tak kalah menarik adalah larisnya buku Intel-Menguak Tabir Intelijen Indonesia karya Ken Conboy, Membongkar Jamaah Islamiyah karya Nasir, atau sukses buku IPDN Undercover dan IPDN Uncensord keduanya karya Inu Kencana.
Lalu, lihat sukses buku Sukarno File karya Antonie C.A. Dake dan Detik-detik yang Menentukan karya mantan presiden B.J. Habibie. Sampai kapan pun, yang namanya misteri pasti akan menarik perhatian. Makanya, ini bisa jadi petunjuk menarik bagi siapa pun yang ingin sukses dalam penulisan.
Kelima, judul kontroversial tetap saja menarik perhatian, walau tidak menjamin kesuksesan. Mengapa demikian? Ya, karena yang aneh-aneh, yang unik, yang lain daripada biasanya, yang menentang arus, semuanya menarik perhatian kebanyakan orang. Mau bukti? Lihat buku saya Kalau Mau Kaya Ngapain Sekolah! yang sejak terbit tahun 2004 hingga sekarang sudah 12 kali cetak dan kemudian terbit pula edisi khususnya (alias cetakan ke-13). Contoh lain, lihat buku Ternyata Akherat Tidak Kekal karya Agus Mustofa atau Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian karya Valentino Dinsi. Keenam, cara penyajian yang populer tetap lebih menarik perhatian pembaca pada umumnya ketimbang buku-buku yang disajikan secara ketat atau berstandar ilmiah tinggi. Simak bagaimana masalah-masalah marketing yang serba teoretis jadi enak mengalir bila yang menuliskannya adalah Hermawan Kartajaya yang sukses dengan Marketing in Venus.
Lihat pula bagaimana masalah-masalah keuangan yang serba rumit bisa terasa renyah dibaca bila yang menulis adalah Safir Senduk yang sukses dengan Siapa Bilang Jadi Karyawan Nggak Bisa Kaya? dan Buka Usaha Nggak Kaya Percuma. Jangan pula lupa, soal filsafat pendidikan, leadership, dan pembelajaran jadi begitu mudah dicerna ditangan Andrias Harefa dalam karyanya Menjadi Manusia Pembelajar.
Ketujuh, fakta bahwa pendatang baru atau orang yang baru pertama kali menulis buku pun sangat mungkin bisa langsung menjadi penulis bestseller. Ini jelas kabar baik bagi semua penulis yang baru mau menerbitkan buku untuk pertama kalinya. Tidak peduli apakah seorang penulis itu sudah punya nama atau belum, tapi walau baru sekali menerbitkan buku, bisa saja bukunya langsung meledak. Mau contohnya? Kita bisa sebut penulis seperti Ary Ginanjar, Valentino Dinsi, atau Raditya Dika dengan KambingJantan-nya, bahkan Eni Kusuma dengan Anda Luar Biasa!!!-nya.
Kedelapan, penulis ber-mindset ‘penjual’ punya peluang lebih besar dalam menjadikan bukunya bestseller. Simak lagi artikel saya yang berjudul “Menjadi Sales Writer”. Penulis yang berani bekerja keras mempromosikan bukunya, baik dalam bentuk seminar, peluncuran buku, diskusi, talk show, wawancara dengan media, termasuk menjual langsung bukunya, pasti punya kans besar untuk sukses. Orang-orang seperti Ary Ginanjar, Andrie Wongso, Andrias Harefa, Tung Desem Waringin, dan Safir Senduk adalah kategori penulis ber-mindset penjual. Terbukti, buku-buku mereka jadi bestseller.
Kesembilan, bahwa iklan, promosi, dan liputan media massa sungguh berperan dalam mendorong sebuah judul buku jadi bestseller. Intinya adalah penampakan (visibility) melalui berbagai instrumen komunikasi massal, bisa lewat iklan, resensi atau pembahasan media, atau bahkan termasuk penampakan di bagian-bagian strategis di toko buku.
Apakah semua buku yang diiklankan, dipromosikan besar-besaranm serta dikupas habis media bisa jadi laris? Tidak juga. Buktinya, lihat saja buku-buku bertema berat yang sering diiklankan di harian Kompas, yang tidak serta merta laris di pasaran. Walau tidak otomatis laris, namun iklan, promosi, atau liputan media massa tetap berpengaruh.
Kesepuluh, distribusi sangat berpengaruh bagi laris tidaknya sebuah buku. Bisa saja bukunya unik, menarik, judulnya kontroversial, iklannya dan promosi juga besar-besaran, namun buku tidak ditemukan di toko mana pun. Ya, sama juga bohong. Makanya, di sinilah peran sentral rantai distribusi dalam mengantarkan produk kepada konsumen akhir. Jika rantai distribusi macet, maka sebesar apa pun potensinya, lupakan mimpi jadi bestseller.
Kesebelas, buku-buku nonfiksi populer relatif lebih bisa diprediksi keberhasilannya ketimbang buku fiksi. Jauh lebih sulit mengkreasikan atau bahkan sekadar meramal akankah sebuah karya fiksi bisa menjadi bestseller. Lihat saja karya-karya fiksi yang menang penghargaan (karena biasanya pasti dianggap bagus dan bermutu) dan kemudian diburu penerbit untuk diterbitkan. Harapan penerbit, pasti karya-karya berkualitas itu bisa laris di pasaran. Makanya, treatment-nya pun pasti berbeda dari buku terbitan yang lainnya, termasuk dalam hal promosi. Tapi, apakah karya fiksi berkualitas itu selalu laris di pasaran? Tampaknya tidak.
Ini beda dengan buku-buku nonfiksi populer yang seirama dengan suatu tren tertentu. Jauh lebih mudah meramal buku Financial Revolution karya Tung Desem Waringin akan sukses di pasaran ketimbang, misalnya, meramal sebuah novel yang menang penghargaan akan mengalami hal serupa. Lebih mudah pula meramal karya Andrias Harefa, Andrie Wongso, dan Safir Senduk akan laris ketimbang karya penulis-penulis fiksi lainnya.
Nah, fakta kesebelas tersebut sekaligus merupakan kabar baik bagi para penulis nonfiksi pada umumnya. Mereka bisa merancang buku sedemikian rupa sehingga potensi untuk jadi bestseller relatif lebih besar. Beberapa variabel yang dibahas di artikel ini pun bisa dijadikan sebagai area kontrol untuk memaksimalkan potensi bestseller.
Jadi, teruslah kreatif dan bersemangat menulis buku. Manfaatkan temuan-temuan di atas untuk merangsang pikiran dalam menemukan ide-ide baru serta meramunya menjadi karya yang berpotensi besar untuk jadi bestseller. Selamat berkarya. Salam bestseller![ez]
* Edy Zaqeus adalah editor Pembelajar.com, trainer SPP, konsultan penulisan dan penerbitan, pendiri Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing, dan penulis buku “Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller”. Jangan lewatkan workshopnya bersama Andrias Harefa dengan judul “Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller” Angkatan ke-2 pada 8-9 Februari 2008 ini. Info selengkapnya di 021-7828044. Kunjungi pula blog Edy Zaqeus on Writing di http://ezonwriting.wordpress.com atau hubungi dia via email: edzaqeus@gmail.com.
Memerdekakan Pikiran Dalam Menulis

By: Edy Zaqeus
From: Pembelajar.com
Seri Artikel Write & Grow Rich
Hampir enam tahun lamanya saya tidak bertemu Bob Sadino, pengusaha agrobisnis yang kondang dengan bendera Kemchick, Kemfarm, dan Kemfood. Beberapa minggu lalu, saya kembali bertemu Om Bob (panggilan akrabnya) untuk sebuah wawancara. Dan, setelah wawancara selama hampir enam jam, ternyata semangat pengusaha gaek nan nyentrik ini masih saja seperti yang dulu. Provokatif, kontroversial, sangat merdeka dalam berpikir, dan gemar meneror mental orang lain.
Mengapa saya angkat Bob Sadino sebagai pembuka tulisan ini? Tak lain karena satu gagasannya yang begitu memprovokasi orang untuk berwiraswasta. “Kalau saya mau bisnis, saya tidak perlu mikir kayak orang pintar. Bikin rencana begini-begitu. Kalau mau bisnis ya bisnis saja, tidak usah terlalu banyak mikir. Kalau terlalu banyak mikir kayak orang-orang pintar itu, percayalah, nanti ndak bakalan jadi berbisnis! Jadi, merdeka sajalah!” ujar Bob bersemangat.
Nah, kalau pernyataan-pernyataan di atas saya kaitkan dengan dunia kepenulisan, rasanya ada hal yang nyambung. Apa itu? Ya, kalau mau menulis saja sudah terlalu banyak berpikir, bisa-bisa malah tidak jadi menulis. Terutama kalau yang dipikirkan adalah bayangan-bayangan negatif yang kita ciptakan sendiri, seperti yang saya tulis pada artikel terdahulu “Mengapa Orang Pintar Takut Menulis?”.
Sebagaimana di dunia wiraswasta, saya sepakat bahwa dalam dunia kepenulisan semangat dan keberanian memulai adalah hal yang teramat penting. Makanya, kalau ada orang pintar yang takut menulis, saya sangat menyarankan supaya mengingat-ingat betul provokasi Bob Sadino di atas.
Persoalannya, dari mana semangat dan keberanian menulis itu berasal? Setelah saya renung-renungkan dan saya hubung-hubungkan dengan keberanian Bob Sadino dalam memprovokasi pikiran orang, maka saya punya kesimpulan pasti. Bahwa, semangat dan keberanian menulis itu akan tumbuh manakala kita berani memerdekakan pikiran kita. Merdeka dari apa? Ya, merdeka dari segala macam rasa takut atau segala macam bayangan negatif, baik yang kita ciptakan sendiri atau sudah terkonstruksi dalam pola komunikasi kemasyarakatan.
Saya ingin menekankan arti penting pernyataan ‘merdeka dalam pikiran’ di sini. Yang saya maksudkan tak lain adalah pentingnya menumbuhkan kesadaran, bahwa siapa pun diri kita ini—tidak peduli dari usia berapa pun, jender, agama, ideologi, suku bangsa, latar belakang sosial ekonomi, dan tingkat pendidikan apa pun (atau bahkan tanpa pendidikan sama sekali)—sungguh-sungguh memiliki hak paling hakiki untuk berpikir, berpendapat, dan bersikap sesuai dengan yang kita inginkan.
Ini sungguh prinsip yang sangat mendasar dan saya anggap sangat penting pula dalam dunia kepenulisan. Berdasarkan prinsip tersebut, maka setiap orang memiliki hak mendasar untuk menuangkan setiap gagasannya dalam bentuk tulisan. Ketika kita bicara pada konteks hak, maka seharusnya tidak ada perintang apa pun yang bisa meredam, mengurangi, atau bahkan menghilangkannya.
Nah, kalau kita sudah sadar akan hak kita tadi, maka apa lagi yang bisa menghambat kita untuk menulis? Makanya, kalau kita masih tetap saja takut menulis, saya justru curiga bahwa diri kita sendirilah yang sejatinya sedang menindas hak akan kebebasan dalam menuangkan gagasan. Jadi, bukan wilayah eksternal yang menjadi penjajah pikiran kita, tetapi kita sendirilah penjajahnya. Kita sendirilah yang tidak mau bebas, tidak mau memerdekakan pikiran!
Saya sering bertanya-tanya, apa sejatinya yang membuat orang-orang pintar di kampus-kampus atau di sekolah-sekolah, tidak produktif atau bahkan tidak menulis sama sekali? Sebagian sudah berhasil kita identifikasi dan kupas dalam tulisan saya sebelumnya. Tetapi, yang paling prinsip—setidaknya menurut keyakinan saya—ternyata adalah soal cara penyikapan terhadap tradisi akademik serta tidak adanya kemerdekaan berpikir pada kebanyakan orang.
Saya akan berikan contoh klasik bagaimana pikiran bisa terjajah oleh sebuah pranata akademik. Bagi Anda yang pernah duduk di perguruan tinggi, pasti tidak asing dengan aturan baku yang mengharuskan insan akademik untuk hanya menulis berdasarkan teori atau rujukan ilmiah. Tanpa rujukan teori yang ilmiah, maka sebuah gagasan tidak ada makna akademiknya. Gagasan-gagasan itu akan dianggap sebagai opini spekulatif. Padahal, justru gagasan spekulatiflah yang selama ini menjadi fondasi ilmu filsafat, induk dari segala macam ilmu di muka bumi ini.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan aturan akademik ini. Sebab, setiap lingkungan atau institusi pasti punya pranatanya sendiri-sendiri. Hanya saja, tradisi akademik semacam ini ternyata bisa menumbuhkan pemahaman yang justru membelenggu kemerdekaan berpikir para civitasnya. Maka, jangan heran kalau melihat fakta begitu banyak civitas akademik yang gamang, menunggu, berhenti, atau bahkan membatalkan niatnya untuk menuliskan gagasan-gagasan orisinal, semata karena tidak memiliki rujukan ilmiah.
Manakala mengurai pemikiran di atas, saya tidak sedang berusaha mengajak kita semua untuk meninggalkan tradisi akademik sama sekali. Sama sekali tidak! Sebab, tradisi tersebut juga menjadi keniscayaan untuk melestarikan sebuah disiplin keilmuan. Saya hanya mengingatkan bahwa pada titik-titik posisi atau area tertentu, tradisi bisa menguatkan tetapi juga bisa melemahkan. Dalam konteks penulisan gagasan, maka sudah seharusnyalah kalau kita lebih arif menyikapinya.
Ketika yang kita butuhkan adalah sebuah pengukuhan, kesahihan, kevalidan, legitimasi, dan pranata kelembagaan, maka tradisi akademik tidak bisa ditinggalkan. Sebab jika ditinggalkan, yang terjadi adalah anomali kelimuan. Tapi, saat yang kita butuhkan adalah area kebebasan demi memperlancar penuangan gagasan, maka tradisi akademik tertentu bisa jadi justru kontra produktif.
Sebagai penulis, editor, dan penerbit, saya sering mendapati beragam tulisan dari beragam latar belakang. Tidak semuanya ditulis dengan baik. Apabila saya menerapkan standar akademik sebagai satu-satunya alat saring tulisan, maka jelas saya akan melewatkan begitu banyak tulisan bagus lainnya—sekalipun itu bukan bagus dalam artian akademik.
Saya yakin, tulisan akademik pun ditulis dengan suatu disiplin tertentu yang sangat pantas untuk dihargai. Bahkan, untuk beberapa jenis tulisan, pendekatan inilah yang rasanya bisa menjadi yang terbaik. Tetapi, tulisan-tulisan nonakademik yang sifatnya hanya opini, atau sering dianggap spekulatif, pun bisa bermanfaat dan menambahkan sesuatu kepada kita. Setidaknya, saya sering menemukan kearifan-kearifan dan kebijaksanaan dalam tulisan-tulisan jenis ini. Dan, itu pun layak mendapatkan apresiasi yang positif.
Nah, sekarang bila Anda merasa terhambat, terbelenggu, takut, atau gamang untuk memulai aktivitas penulisan gagasan, cobalah untuk mengorek sebab-musababnya. Apabila Anda merasa hambatan itu berasal dari luar diri Anda, maka segera sadari akan hak hakiki setiap orang untuk berpikir, berpendapat, dan bersikap. Ideologi demokrasi dan konstitusi kita menjamin hal tersebut.
Namun, bila hambatan itu terasa datangnya dari dalam diri sendiri, segera gedor kesadaran Anda bahwa menjajah pikiran sendiri sama artinya dengan menghina dan merendahkan martabat kita sendiri sebagai manusia merdeka. Ingat, Tuhan menciptakan manusia lengkap dengan kemuliaan martabat, kemerdekaan, dan hak-hak azasinya. Jadi, jangan cabut kemerdekaan berpikir Anda sendiri.
Saya yakin, salah satu hal yang membuat dunia ini sebegitu dinamisnya adalah karena adanya kemerdekaan berpikir. Kemerdekaan berpikir ini dinikmati oleh orang-orang yang mau menyadari, memperjuangkan, menggunakan, bahkan menikmatinya. Dari merekalah muncul beribu-ribu, bahkan berjuta-juta gagasan lisan maupun tertulis yang kemudian memperkaya peradaban manusia. Saya berharap, Anda adalah salah satu di antaranya. Selamat menulis dengan merdeka![ez]
* Edy Zaqeus adalah editor Pembelajar.com, trainer SPP, konsultan penulisan dan penerbitan, pendiri Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing, dan penulis buku “Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller”. Jangan lewatkan workshopnya bersama Andrias Harefa dengan judul “Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller” Angkatan ke-3 pada 11-12 April 2008 ini. Info selengkapnya di 021-7828044. Kunjungi pula blog Edy Zaqeus on Writing di http://ezonwriting.wordpress.com.
Mengapa Orang Pintar Takut Menulis?

By: Edy Zaqeus
From: Pembelajar.com
Seri Artikel Write & Grow Rich
Saya sering menemui sahabat yang punya minat sangat besar untuk mulai belajar menulis. Mereka datang dari beragam usia serta latar belakang profesi, pendidikan, bahkan status sosial-ekonomi. Tak sedikit di antaranya yang sudah membaca sekian banyak buku tentang teknik menulis, mengikuti seminar, dan lokakarya (workshop). Tak sedikit yang sudah memiliki dasar-dasar kemampuan menulis cukup memadai sebagai konsekuensi pekerjaan, profesi, atau tugas-tugas di masa studi. Sebagian lagi malah sudah sampai pada tahap sikap seperti ini, “Pokoknya apa pun akan saya lakukan, asal saya bisa menulis dengan baik!” Luar biasa!
Tapi, apakah para sahabat ini serta merta langsung belajar menulis? Ternyata tidak! Ini yang membuat saya sering bertanya-tanya, “Apa lagi ya yang kurang?” Selidik demi selidik, bagi sebagian dari kita ternyata menulis itu memang bukan perkara mudah. Mengapa tidak mudah? Ternyata, soal menulisnya sendiri sih bisa mudah, tapi perkara ‘beban mental’-nya itu yang tidak mudah. Wah, apa lagi ini?
Begini, bagi sebagian dari kita, aktivitas menulis itu sering dilingkupi oleh berbagai bayangan, persepsi, atau mitos keliru. Entah dari mana munculnya dan kapan bersarang di otak kita, tapi anggapan-anggapan yang keliru itu mampu menelikung semangat untuk menulis—bahkan semangat yang paling membara sekalipun. Saya akan perinci beberapa di antaranya.
Pertama, ada orang yang berpikir bahwa tulisan itu mencerminkan kemampuan, pengalaman, wawasan, intelektualitas, bahkan kepribadian si penulisnya. Dalam derajat tertentu, anggapan ini jelas ada benarnya. Memang, sebuah tulisan pastilah dihasilkan berdasarkan kecakapan atau keahlian si penulisnya. Intensitas dalam sebuah proses penulisan, kadang memang terekam dengan baik dalam hasil tulisan.
Makanya, orang awam pun kadang dengan mudah mengenali sejumlah hal—baik itu tingkat kemampuan, banyaknya pengalaman, luasnya wawasan, kadar intelektualitas, bahkan kepribadian si penulis—selain gagasan-gagasan dalam tulisan itu sendiri. Orang-orang ‘pintar’ pada umumnya, justru sangat paham akan konsekuensi ini. Dan, kepahaman ini pula yang justru jadi biang masalah dalam kepenulisan.
Makanya, akan salah besar jika kemudian muncul ketakutan menulis, semata-mata karena ngeri kalau-kalau tulisan kita nanti diadili orang lain, yang kita anggap lebih pintar dalam bidang yang ditulis. Kadang yang membuat ngeri bukannya pengadilan terhadap gagasan-gagasan dalam tulisan itu sendiri, tapi lebih karena ‘ancaman’ pengadilan kepada siapa yang menulis.
Jadi, ini soal ego yang ‘terancam’ oleh pikiran, persepsi, atau anggapan sendiri, yang belum tentu benar adanya. Benar sedikit atau seluruhnya, ternyata perasaan terancam ini pula yang menjadi sumber ketakutan untuk menulis.
Kedua, mirip-mirip dengan permasalahan pertama, tak jarang orang yang baru belajar atau memutuskan menulis mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri secara ‘kejam’: “Siapa sih aku, kok berani-beraninya menulis?” Kalau mau dipanjanglebarkan, maka akan muncul rentetetan gugatan pada niatan menulis, “Apa orang mau baca tulisanku?”, “Apa iya ide saya yang minim pengalaman ini layak ditulis?”, “Apa orang tidak akan menertawakan saya kalau saya menulis soal ini?”, dan masih banyak lagi.
Jadi, ini soal ancaman pengadilan terhadap ‘siapa’ si penulis itu. Percaya atau tidak, sindrom semacam ini—kalau boleh disebut begitu—menghinggapi bukan saja para calon penulis yang baru pada tahap belajar, tapi juga membelenggu kalangan intelektual, akademisi, atau para profesional yang sangat well educated dan well informed. Sindrom ini sangat berbahaya sekali. Mengapa? Kreativitas bisa macet gara-gara kita terlalu berfokus pada soal siapa diri kita dan layak tidaknya kita menulis.
Menurut saya, sindrom ini adalah soal psikologis, sementara gagasan yang hendak ditulis sama sekali tidak bertautan dengan hal tersebut. Orang bisa saja takut ini-itu ketika hendak menulis, tapi ketakutan itu sendiri tidak otomatis mengindikasikan kualitas gagasan yang hendak ditulis.
Ketiga, ancaman ‘pengadilan’ terhadap gagasan sendiri dan masalah ini juga masih bersambungan dengan persoalan-persoalan sebelumnya. Tak jarang karena pertanyaan-pertanyaan kritis soal siapa yang menulis, maka gagasan yang brilian sekalipun sering dipendam atau tidak diperbolehkan mekar.
Bagus tidaknya intisari gagasan seseorang tidak ditentukan oleh siapa pencetusnya ataupun kondisi-kondisi psikologis seseorang. Gagasan tetaplah gagasan, sekalipun ditulis oleh siapa saja dan dalam kondisi tidak percaya diri, ketakutan, dan ragu-ragu sekalipun.
Dari premis ini pula, dalam hal kepenulisan saya termasuk ‘penganut’ nilai gagasan an sich, bukan soal siapa yang menulis. Saya menghargai gagasannya, bukan siapa yang menulis. Gagasan atau tulisan seorang pembantu rumah tangga sama berharganya seperti pendapat seorang guru besar atau pakar. Gagasan tukang sol sepatu sama-sama layak diapresiasi sebagaimana ide-ide para direktur perusahaan maupun pejabat pemerintahan. Jika gagasannya bagus dan ditulis dengan baik pula, itu pantas dipuji dan diapresiasi, siapa pun penulisnya.
Bagaimana dengan gagasan buruk (bad idea)? Saya sendiri selalu bertanya-tanya, apa benar ada yang namanya gagasan buruk? Dalam ranah fungsional, mungkin ada (dalam pengertian gagasan yang tidak aplikatif). Tapi dalam ranah ide, rasanya tidak ada gagasan buruk. Yang ada mungkin hanya gagasan yang tidak disampaikan atau ditulis secara sistematis dan logis sehingga menguatkan ciri ketidakbaikannya itu.
Keempat, tak jarang bayangan atau anggapan-anggapan yang keliru tentang kepenulisan itu datang dari lingkungan di mana kita belajar sebelumnya. Maksudnya, tempat kita menyerap pengetahuan dan belajar menulis (SD, SMP, SMA, perguruan tinggi, kursus-kursus, tempat kerja, atau mentor) memberikan pedoman kepenulisan yang ternyata tidak efektif bagi diri pribadi kita.
Dalam hal menulis, memang banyak strategi, teknik, atau cara menulis yang diserap dari beragam praktik, yang kemudian dibukukan, diajarkan, atau diaplikasikan dalam kelas.
Menariknya, sekalipun banyak metode tersebut efektif untuk kebanyakan orang, tapi selalu saja ada pribadi-pribadi unik yang butuh lebih dari pedoman yang ada. Saya percaya setiap orang punya cara belajar dan berkarya sendiri-sendiri, sehingga sebuah pedoman untuk berkreasi—secanggih dan seampuh apa pun itu—tidak otomatis cocok untuk semua orang.
Saya misalnya, pernah menghadapi adik sendiri yang sedang belajar menulis artikel. Ia punya kegemaran menulis paragraf panjang-panjang, kadang hampir satu halaman penuh hanya untuk satu paragraf, yang membuat si pembaca merasa kelelahan membaca tulisannya. Ketika saya sampaikan teknik menulis paragraf yang efektif, adik saya ini merasa tidak sepaham karena—menurut apa yang pernah dia terima dari guru bahasa di SMA dan beberapa dosen yang pernah dia tanyai—teknik itu dianggap menyalahi ‘aturan’.
Maka dari itu, sekalipun teknik penulisan yang saya tawarkan saya anggap efektif, tapi karena dianggap adik saya menyalahi aturan, ya akhirnya jadi tidak efektif lagi, alias tidak dipergunakan. Ketakutan melanggar ‘aturan’ inilah yang mungkin membuat banyak orang enggan beranjak ke cara penulisan yang bisa jadi lebih cocok dan efektif bagi proses kreatifnya.
Persoalannya, apa gunanya ‘aturan’ atau pedoman kepenulisan—yang belum tentu benar keseluruhannya dan pas dengan kebutuhan kita—bila justru menghambat proses kreatif? Pada titik ini, tak ada salahnya mulai berpaling ke cara-cara baru yang lebih mendukung proses kreatif dan produktivitas kita. “Lurus tak selalu bagus,” kata saya pada adik saya ini.
Kelima, soal motif menulis. Dalam hal menulis, sebagian orang sejak dini sudah membentengi diri dengan sekian banyak pantangan. Misalnya, pantang menulis karena motif finansial. Pantang menulis untuk kepentingan personal branding. Pantang menulis karena bau pasar atau industri. Dan, masih banyak lagi pantang lainnya. Manakala berhadap-hadapan dengan tuntutan aktivitas menulis yang menuntut kompromi, maka sikap pantang ini bisa jadi penghambat yang serius.
Saya pernah berhadapan dengan seorang profesional yang menurut pandangan saya sudah cukup kaya dengan pengalaman di bidangnya. Jika sudah sampai pada tahap seperti itu, maka menuliskan gagasan-gagasan terbaiknya dalam bentuk buku adalah sebuah pilihan yang menantang. Tapi karena idealisme untuk menulis buku masterpiece—sementara waktu dan kemampuan menulis belum padu padan—si profesional ini memilih untuk tidak menulis dulu. Baginya, pantang menulis (buku) sederhana (yang dalam pikiran saya, itu bisa jadi solusi sementara bagi para profesional nonpenulis). Akhirnya, sejumlah pilihan teknik menulis yang lebih praktis dan mudah pun diabaikan.
Sesungguhnya, menulis adalah alat untuk berkomunikasi atau penyampai pesan. Karena hakikatnya alat maka tulisan itu netral. Tulisan baru punya value tertentu begitu diberi motif oleh si penulisnya. Karena di dunia ini ada beribu kepentingan, maka akan ada beribu motif pula dalam memanfaatkan tulisan. Orang bisa menulis karena motif uang, popularitas, kesuksesan, pengaruh, legitimasi, keilmuan, keagamaan, propaganda politik, dan masih banyak lagi. Motif tersebut bisa berdiri di titik ekstrim idealis sampai di titik ekstrim pragmatis. Semuanya sah-sah saja, sama bermaknanya satu dengan yang lain.
Sebagai editor dan penulis profesional, saya sering mendapati problem motif ini lumayan membelenggu sebagian orang yang hendak menuliskan gagasannya. Betapa motif bisa memacu tapi juga bisa membelenggu. Idealisme sering bertarung dengan pragmatisme. Sebagian orang bisa berkompromi dan melanjutkan aktivitas menulis, sebagian lagi berhenti pada niat dan melupakannya. Menulis akhirnya menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit sifatnya.
Jika menghadapi dilema semacam ini, kita tidak perlu takut untuk berkompromi. Idealisme tidak boleh menghambat gerak kreatif kita, sebaliknya pragmatisme juga tidak boleh membuat kreativitas kita jadi liar nirmakna. Gagasan-gagasan terbaik seharusnya tidak menguap hanya karena kita takut dengan motif atau idealisme menulis.
Sejauh ini kita sudah mengurai akar masalah kenapa orang awam maupun orang yang paling berkompeten sekalipun bisa takut menulis. Lalu, adakah cara-cara atau teknik untuk menaklukkan rasa takut menulis itu? Jawabannya, ada dan banyak sekali. Kita akan diskusikan pada tulisan berikutnya. Salam bestseller![ez]
* Edy Zaqeus adalah editor Pembelajar.com, trainer SPP, konsultan penulisan dan penerbitan, pendiri Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing, dan penulis buku “Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller”. Jangan lewatkan workshopnya bersama Andrias Harefa dengan judul “Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller” Angkatan ke-2 pada 8-9 Februari 2008 ini. Info selengkapnya di 021-7828044. Kunjungi pula blog Edy Zaqeus on Writing di http://ezonwriting.wordpress.com atau hubungi dia via email: edzaqeus@gmail.com.
The Da Vinci Code

By: Pdt Mexson Million
From: MisiKasih.com
Buku novel karangan Dan Brown sudah terjual sejak dipublikasikan sejak tahun 2003 sebanyak 40 juta kopi menjadi salah satu buku terlaris (bestseller), sehingga muncul sebuah film yang didasarkan atas novel tersebut yang disutradarai oleh Ron Howard dan diperankan oleh beberapa aktor terkenal: Tom Hanks, Andrey Tautou, Jean Reno dan lain-lain, diperkirakan sekitar 800 juta orang di seluruh dunia akan menonton film ini dan sekarang sementara diputarkan dibeberapa bioskop di Jakarta.
“ Mengapa The Da Vinci Code begitu menjadi terkenal dan diminati orang, sedangkan ceriteranya jelas-jelas tidak berdasarkan Alkitab yang kita percayai ?” Tanya seorang anak pada ayahnya.
“ Iya, karena sifat alamiah manusia yang selalu ingin tau sesuatu, apalagi menjadi polemik, semakin menambah minat manusia untuk mengatahuinya “. Jawab nya.
“ Dari mana Dan Brown tau bahwa Tuhan Yesus menikah dan mempunyai keturunan di Prancis sampai sekarang “.Tanyanya lagi.
“ Dalam presentasi bukunya Dan Brown menyatakan bahwa dia yakin bahwa semua deskripsi dan dokumen-dokumen dan ritus-ritus adalah benar. Tapi kenyataan tulisannya memiliki banyak kesalahan dan kebohongan, dimana diceritakan juga bahwa Yesus mempercayakan gereja kepada Maria Magdalena sebagai penerus yang membuat para rasul berkomplot melawan dan mau membunuhnya sehingga ia melarikan diri dengan anak-anaknya ke Prancis dan mendapat perlindungan dari Klandestin “Sion Of Priorato” (Pasukan bersenjata) yang melindungi keturunan Yesus dari ancaman gereja Kotolik, juga dalam gambar karya Leonardo Da Vinci yaitu: The Last supper ( perjamuan Terakhir) ditafsirkan bahwa yang duduk disamping Yesus bukan Yohanes yang waktu itu masih muda tetapi Maria Magdalena karena terlihat tangan seorang wanita dan jarak duduk Yesus membentuk V adalah kode untuk wanita. Juga dikatakan bahwa Yesus tidak menganggap dirinya Tuhan dan juga murid-muridNya tetapi merupakan hasil rekayasa dari Konsili Nicea 325 pada masa pemerintahan Emperador Constantin tentang kekudusun dari Yesus. Jadi kita dapat menangkap bahwa ini hanya sebuah ceritera fiksi yang diupayakan menjadi nyata untuk mencari populeritas dan meraup kekayaan dalam waktu singkat oleh karena itu dia berani memjungkir balik iman dan keyakinan gereja”. Jawab ayahnya memberi penjelasan..
“ Jadi bagaimana tanggapan kita dan penjelasan kita mengenai semua ini, yang bisa berdampak negative terhadap iman, karena ditonton dan dibaca oleh semua orang, terutama mereka yang lemah iman” Tanyanya lagi.
“ Dalam 1 Yohanes 4 : 1 – 3. “ Saudara-saudaraku yang kekasih janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi keseluruh dunia. Demikian kita mengenal! Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dai Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia”. Maka bijaklah kalau kita mengukur suatu kebenaran harus selalu berdasarkan Alkitab, bukan sebaliknya mengukur Alkitab dengan berdasarkan suatu tulisan-tulisan yang tidak ada dasar kebenarannya, Dan Brown berpegang pada bukti kuno yang ditemukan di Nag Hammadi, Mesir pada tahun 1945. The Gospel of Thomas dan The Secret Books of James, hanyalah dua dari koleksi tulisan-tulisan ajaran Gnostikisme pada abad kedua dan ketiga, yang tidak memenuhi standar Perjanjian Baru untuk diterima sebagai kitab suci. Karena penulis yang tidak jelas dan tidak memeliki hubungan dengan para Rasul-Rasul atau hanya berdasarkan lagenda-lagenda di dalam Pereval, yaitu sebuah tulisan romantika Raja Arthur dan kerajaan Camelotnya dan mengklaim sebagai suatu fakta atau kebenaran, tentunya sekali lagi, kita harus lebih waspada lagi, karena sebagai tanda akhir zaman maka pasti muncul banyak penyesat-penyesat mungkin lebih lagi dari Dan Brown karena masih banyak naskah-naskah kuno dari penyesat-penyesat yang akan diterbitkan, dan mungkin saja Tuhan kita Yesus Kristus membiarkan ini terjadi untuk memurnihkan kita supaya kita tidak sekedar menjadi pengikutnya saja melainkan kita harus mendalam dalam pengenalan akan Dia, memiliki pengatahuan yang benar tentang Dia dan mempunyai pertemuan pribadi dengan Nya sehingga kita semakin kuat dan diperkuat oleh oleh hujatan-hujatan melalui apapun juga, karena kita sadar bahwa apa yang dikatakan Tuhan Yesus dalam Yohanes 15: 18-19.”Jika dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dulu membenci aku dari pada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan aku memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu”.
Sekiranya yang kita imani dan yakini berasal dari dunia ini tentunya dunia tidak selalu mencari-cari alasan untuk menggugat dan menolaknya, tetapi dengan demikian kita dapat melihat bahwa Alkitab yang kita miliki walau dalam penulisannya mungkin tidak sempurna tetapi memeliki kewibawaan Allah yang terus dalam pengenapan-penggenapan. Sehingga respon kita bukan menjadi semakin lemah melainkan semakin dikuatkan karena Dia sendiri yang akan menguatkan kita oleh kasih karuniaNya. Jadi Dan Brown dengan The Da Vinci Code atau penulis-penulis lain dengan tulisan apapun juga tidak dapat mengoncangkan iman kita, kecuali kita sendiri yang mau digoncangkan dengan kebohongan.
Negative Thinking
By: MisiKasih.com
From: MisiKasih.com
Negative Thinking atau berpikiran negatif adalah cara seseorang memberikan penilaian atau kesimpulan secara bertolak belakang dari kenyataannya. Dalam bertindak orang-orang yang berpikiran negatif umumnya akan mendasarinya pada kecurigaan dan dugaan-dugaan. Suatu ketika ada seseorang yang mengatakan bahwa hamba-hamba Tuhan di HolyPower menghidupi dirinya dari persepuluhan anggotanya. Orang ini belum pernah sekalipun bertemu dengan pengerja di HolyPower. Kami lalu menjelaskan bahwa hal itu sama sekali tidak benar karena HolyPower menanggung 95% dari seluruh biaya operasional secara pribadi tanpa ada dukungan secara finansial oleh organisasi atau gereja manapun, dan sekalipun kami berada dalam keterbatasan, kami tidak pernah membebankannya kepada anggota-anggotanya (tidak ada kewajiban atau keharusan kepada anggotanya untuk membayar pelayanan yang diberikan), itulah keadaan yang sesungguhnya; Akan tetapi orang tsb masih terus memaksakan penilaiannya itu dengan segala argumentasinya dan ingin sekali agar HolyPower membenarkan penilaiannnya itu. Dari contoh ini, kita dapat belajar, betapa orang-orang yang memiliki pikiran negatif cenderung mempersulit keadaan, sulit untuk menerima kebenaran dan akhirnya bagi dirinya sendiri tidak akan pernah menjadi berkat bagi orang lain. Persoalan negative thinking atau berpikiran negatif ini memang sudah ada sejak manusia jatuh dalam dosa; Semasa Yesus masih tinggal bersama-sama manusia, Yesus pernah mendapati murid-murid-Nya pernah berpikiran negatif terhadap seorang perempuan yang mengurapi-Nya dengan minyak wangi yang mahal, dan Yesus memberikan teguran kepada mereka (Matius 26:6-10).
Orang-orang yang berpikiran negatif juga sangat sulit menerima nasehat, apalagi kritik. Bagi orang yang berpikiran negatif, nasehat seringkali dianggap sebagai merendahkan dirinya, sedangkan kritik seringkali dianggap sebagai tuduhan yang mempersalahkannya. Mereka sulit menerima bahwa nasehat itu sesungguhnya adalah sesuatu yang menguntungkan bagi dirinya dan kritik adalah sesuatu yang dapat menjadikan dirinya semakin maju dan berkualitas. Akibatnya orang-orang yang memiliki pikiran negatif ini tidak bisa produktif dan membangun orang lain, bahkan tidak jarang mereka menjadi pendengki dan iri hati.
Menjadi pengikut Kristus justru harus didasari dengan positive thinking atau berpikiran positif. Kita harus belajar untuk mendahulukan penilaian baik terhadap sesuatu dan berusaha untuk beranggapan baik terhadap seseorang. Karena akan sia-sialah hidup kekristenan kita kalau pikiran kita masih selalu negatif dalam menilai segala sesuatunya, karena pikiran yang selalu negatif tidak akan pernah dapat menerima dengan sungguh-sungguh kebenaran yang diajarkan Yesus Kristus, apalagi untuk melakukannya. Pengajaran Kristus adalah pengajaran yang melihat segala sesuatunya dari sisi positif, bagaimana yang lemah dikuatkan, bagaimana yang memusuhi diri kita dikasihi, bagaimana orang yang bersalah diampuni, bagaimana tidak menghakimi orang lain dan mau percaya bahwa penghakiman itu adalah Hak Allah dan seterusnya. Anda bisa bayangkan apabila Yesus memiliki pikiran negatif, maka sudah pasti Yesus tidak akan pernah memberkati hidup kita karena Dia akan curiga jangan-jangan pemberian-Nya akan disalahgunakan. Yesus tidak akan pernah mau menderita dan mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia, karena curiga jangan-jangan anugerah pengampunan-Nya hanya akan sia-sia, dan seterusnya. Jadi betapa berpikiran negatif itu sangat merugikan siapapun. (RYT).
“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku;
lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Mazmur 139:23-24)
Maju terus dalam Tuhan, Tuhan Yesus memberkati saudara dan seisi rumah, amin.
Sumber : http://www.holypower.net

